Lebaran 2026

Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadan, Apakah Harus Didahulukan Dibanding Puasa Syawal?

Berikut ini bacaan niat puasa qadha Ramadan. Apakah ketentuan qadha Ramadan harus didahulukan dibanding puasa Syawal?

Tayang:
Editor: Torik Aqua
Dok PCNU Surabaya
NIAT - Ilustrasi ceramah agama. Simak bacaan niat puasa qadha Ramadan. 
Ringkasan Berita:
  1. Qadha puasa Ramadhan wajib, harus mengganti sesuai jumlah hari yang ditinggalkan.
  2. Puasa Syawal sunnah, bisa dilakukan setelah Ramadhan dalam bulan Syawal.
  3. Mayoritas anjuran: dahulukan qadha sebelum puasa Syawal, terutama tanpa uzur.

 

TRIBUNJATIM.COM - Simak niat puasa qadha Ramadan.

Apakah ketentuan qadha Ramadan harus didahulukan dibanding puasa Syawal?

Pengertian qadha puasa Ramadan adalah membayar 'utang' puasa yang tidak dilakukan di bulan Ramadan.

Hal ini dikarenakan uzur seperti sakit atau perjalanan jauh.

Sebab, hukum puasa Ramadan adalah wajib.

Baca juga: Hukum Puasa Syawal Sebelum Bayar Utang Puasa Ramadan, Simak Penjelasannya

Dan hukum qadha puasa Ramadan juga wajib.

Puasa Qadha dikerjakan sejumlah hari yang ditinggalkan.

Ketentuan ini sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 184, yang artinya sebagai berikut:

“Beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dikutip dari bali.kemenag.go.id, terdapat dua pendapat ulama mengenai waktu batas akhir qadha puasa Ramadan.

Kedua pendapat ini dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah.

Pertama, menurut ulama Syafiiyah dan ulama Hanabilah, batas akhir qadha puasa Ramadan adalah hingga datang puasa Ramadan berikutnya.

Kedua, menurut ulama Hanafiyah, tidak ada batas akhir qadha puasa Ramadan.

Qadha puasa Ramadan boleh dilakukan kapan saja, baik setelah tahun puasa Ramadan yang ditinggalkan atau tahun-tahun berikutnya.

Sementara itu, puasa Syawal selama enam hari pada bulan Syawal hukumnya adalah sunnah.

Pahala puasa Syawal setara dengan puasa selama setahun.

Puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan atau berseling hari, yang penting masih di bulan Syawal.

Waktu terbaik untuk melaksanakan puasa Syawal adalah tanggal 2–7 Syawal.

Niat Puasa Qadha
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:

"Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT."

Bacaan doa buka puasa:

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa‘alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin.
Artinya:

Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih.

Bisa juga dengan bacaan doa buka puasa seperti berikut:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruqu, wa tsabatal ajru, insyaallah.
Artinya:

"Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, serta pahala telah tetap, insya Allah."

Niat Puasa Syawal
Inilah bacaan niat puasa Syawal yang dianjurkan untuk dilafalkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:

“Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Tidak seperti puasa Ramadan, niat puasa Syawal bisa dilakukan saat siang hari selama belum makan atau minum.

Berikut niat puasa Syawal yang dilakukan pada siang hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:

“Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT."

Mana yang Harus Didahulukan, Puasa Syawal atau Qadha Ramadan?

Simak penjelasan dari para ulama sebagaimana dilansir laman bali.kemenag.go.id:

"Jika seseorang tidak berpuasa di bulan Ramadan karena ada uzur, misalnya karena sakit atau karena haid, maka boleh langsung berpuasa enam hari di bulan Syawal."

"Adapun bagi orang yang sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadan, padahal tidak ada uzur, maka haram baginya berpuasa enam hari di bulan Syawal sebelum mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkannya."

Lalu, disebutkan dalam kitab Hasyiatul Jamal 'ala Syarh Al-Minhaj:

"Jika seseorang sengaja tidak melakukan puasa Ramadan, maka haram baginya melakukan puasa enam hari bulan Syawal, selain (mengganti) puasa Ramadan. Hal ini karena dia wajib mengganti puasa Ramadan dengan segera."

Selanjutnya, dikutip dari laman sumsel.kemenag.go.id, sebaiknya orang yang memiliki utang puasa Ramadan membayarnya di bulan Syawal.

Sehingga, mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan utangnya tersebut.

Kemudian, dilanjutkan dengan enam hari puasa di bulan Syawal yang berarti dia telah melakukan amal perbuatan yang tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya.

Allah SWT berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS Al-Hijr: 99).

Dengan demikian, utang puasa Ramadan dibayar terlebih dahulu sebelum menunaikan puasa Syawal.

Setelah mengganti puasa Ramadan, bisa dilanjutkan dengan melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved