Pakar Unair Ingatkan Banjir Rob Kian Meluas yang Berdampak bagi Wilayah Pesisir di Indonesia

Fenomena banjir rob dilaporkan semakin sering melanda berbagai wilayah pesisir Indonesia. 

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Sudarma Adi
TribunJatim.com/Sulvi Sofiana
BANJIR ROB - Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (Unair), Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T. saat diwawancarai 

Ringkasan Berita:
  • Fenomena: Banjir Rob di pesisir utara Jawa (termasuk Surabaya Utara) dikategorikan sebagai bencana yang harus diwaspadai.
  • Penyebab Utama: Elevasi pesisir yang rendah dan alih fungsi lahan (hutan mangrove) menjadi permukiman atau industri.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Fenomena banjir rob dilaporkan semakin sering melanda berbagai wilayah pesisir Indonesia. 

Meski secara alami terjadi akibat pasang air laut, banjir rob kini telah berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat sehingga patut dikategorikan sebagai bencana yang harus diwaspadai.

Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (Unair), Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., menjelaskan bahwa banjir rob umumnya terjadi di kawasan pesisir yang memiliki elevasi lebih rendah dibandingkan level pasang laut maksimum. 

Baca juga: Banjir Rob Sering Genangi Kampung Mandar di Banyuwangi, Begini Langkah dan Solusi BPBD

Kondisi tersebut banyak dijumpai di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, termasuk sejumlah kawasan di Surabaya Utara.

“Tidak semua wilayah pesisir mengalami banjir rob, tetapi daerah yang topografinya berada di bawah elevasi pasang tinggi sangat rentan. Di Surabaya Utara misalnya, beberapa titik memang sudah berada di bawah elevasi pasang laut,” ujarnya.

Sapto menambahkan, durasi genangan banjir rob cenderung semakin lama ketika bertepatan dengan musim hujan. 

Kombinasi antara pasang laut tinggi dan curah hujan yang besar menyebabkan air sulit surut, sehingga mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

“Ketika hujan turun bersamaan dengan pasang tinggi, air akan menggenang lebih lama. Dampaknya tidak hanya pada aktivitas ekonomi, tetapi juga pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat pesisir,” jelasnya.

Selain faktor alam, banjir rob juga dipicu oleh masifnya alih fungsi lahan di kawasan pesisir. Banyak wilayah yang seharusnya menjadi daerah resapan air justru berubah menjadi kawasan permukiman, pergudangan, hingga industri, termasuk kawasan hutan mangrove.

“Daerah resapan itu sebenarnya sangat dibutuhkan. Namun sekarang banyak mangrove yang beralih fungsi menjadi perumahan dan kawasan industri. Ketika ruang resapan hilang, tekanan air ke daratan menjadi semakin besar,” terangnya.

Menurut Sapto, hutan mangrove memiliki peran krusial sebagai benteng alami dalam meredam dampak banjir rob. Mangrove memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas dan mampu menahan energi gelombang sebelum air laut mencapai permukiman warga.

Baca juga: Atasi Banjir Rob di Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi Ikut Gotong Royong Tinggikan Tanggul

“Mangrove adalah solusi alami yang paling ideal. Hanya mangrove yang mampu bertahan pada kondisi asin seperti itu. Harapannya, di Surabaya green belt mangrove bisa diperkuat dan dipertebal untuk melindungi wilayah daratan,” katanya.

Terkait upaya penanganan banjir rob, Sapto mengingatkan bahwa pembangunan tanggul tidak selalu menjadi solusi utama. Menurutnya, struktur beton dapat mengganggu dinamika laut dan berpotensi menimbulkan masalah baru di wilayah lain.

“Tanggul memang terlihat sebagai solusi cepat, tetapi struktur beton bisa mengubah arus laut, pola gelombang, bahkan memicu erosi atau sedimentasi di lokasi lain,” ungkapnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved