Berita Surabaya

Cara Mahasiswa Ubaya Cegah Kekerasan Seksual Pada Anak, Gunakan Boneka Edukasi

Upaya pencegahan kekerasan seksual terhadap anak terus dikembangkan melalui pendekatan edukatif yang ramah usia.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Januar
Tribun Jatim Network/Sulvi Sofiana
Sejumlah anak usia dini mengikuti sesi edukasi seks melalui media boneka interaktif di Sanggar Kreativitas Ubaya. Dengan pendampingan guru dan fasilitator, anak-anak diajak mengenal bagian tubuh, batasan sentuhan, serta mengekspresikan emosi sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual sejak usia dini 

Ringkasan Berita:
  • Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) mengembangkan boneka edukasi seksual sebagai media ramah anak untuk mencegah kekerasan seksual sejak usia dini, khususnya pada anak usia 3–6 tahun.
  • Boneka digunakan sebagai alat edukasi batasan tubuh, membantu anak mengenali bagian tubuh pribadi, kapan boleh berkata tidak, dan bagaimana melindungi diri, sesuai pendekatan pendidikan seks yang aman dan sesuai usia.

 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABYA– Upaya pencegahan kekerasan seksual terhadap anak terus dikembangkan melalui pendekatan edukatif yang ramah usia.

Salah satunya diwujudkan melalui inovasi boneka edukasi seksual karya mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) yang dirancang khusus untuk anak usia dini.

Kepala KB Sanggar Kreativitas Ubaya, Shinta Oktaviani, menegaskan bahwa pendidikan seks pada anak usia dini sangat penting, terutama dalam lima tahun pertama kehidupan anak.

“Seks edukasi untuk anak usia dini sangat-sangat penting untuk dilakukan. Tapi perlu dipahami, pendidikan seks untuk anak itu bukan seperti yang orang dewasa bayangkan. Anak-anak dikenalkan pada tubuhnya sendiri, batasan-batasan tubuh, mana yang boleh disentuh dan mana yang tidak boleh oleh orang lain,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).

Baca juga: Manohara Tak Mau Disebut Mantan Istri Pangeran Kelantan, Ngaku Korban Pelecehan

Menurut Shinta, media boneka menjadi sarana yang efektif karena membantu anak memahami konsep batasan tubuh secara sederhana dan praktis.

“Melalui boneka, anak-anak bisa belajar kapan mereka boleh berkata tidak, kapan harus berteriak, dan kapan harus melindungi diri. Ini bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga melatih kematangan dan kecerdasan emosi anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, edukasi seks sebaiknya diberikan sejak usia balita agar anak mendapatkan pemahaman yang benar dari lingkungan terdekat.

“Seks edukasi untuk usia balita, lima tahun pertama, itu sangat penting dilakukan. Jangan sampai anak justru mengenal dari media sosial yang tidak sesuai usianya. Edukasi dari orang tua dan sekolah jauh lebih aman dan tepat,” tegas Shinta.

Boneka edukasi tersebut merupakan karya Amelia Margaretha Suprapto, mahasiswa Program Studi Desain dan Manajemen Produk Ubaya. Amelia mengaku terinspirasi dari maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia.

“Setelah saya cari tahu, ternyata anak-anak adalah korban terbanyak kekerasan seksual. Dari situ saya berpikir, pencegahan harus dimulai sedini mungkin, lewat edukasi seksual yang sesuai usia,” ungkap Amelia.

Ia menyebutkan, berdasarkan hasil wawancara dengan psikolog anak, edukasi seksual dapat mulai diberikan pada usia 3 hingga 6 tahun. Hal inilah yang mendorongnya merancang boneka edukatif yang ramah anak dan mudah digunakan oleh orang dewasa.

“Edukasi seksual masih dianggap tabu. Boneka ini saya rancang agar orang tua dan guru lebih mudah menyampaikan materi ke anak-anak tanpa rasa canggung,” katanya.

Proses pembuatan boneka tersebut memakan waktu hampir satu tahun dan menjadi bagian dari tugas akhir Amelia. Tahapan dimulai dari studi pustaka, studi visual dari buku anak, hingga wawancara dengan orang tua, guru TK, dan psikolog anak.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved