Lipsus Pasar Tradisional Sepi

Pengamat Angkat Bicara soal Harga Bapok Stabil Tapi Aktivitas Pasar Tradisional Menurun

Meski harga relatif aman, Prof. Rossanto menilai penurunan aktivitas di pasar tradisional lebih disebabkan perubahan perilaku konsumen.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Torik Aqua
Tribun Jatim Network
SEPI - Ilustrasi pasar tradisional. Harga bahan pokok stabil tapi pasar tradisional cenderung sepi. 

Ringkasan Berita:
  1. Pakar ekonomi menilai perubahan perilaku konsumen dan daya beli.
  2. Pasar Wonokromo Surabaya mengalami penurunan aktivitas.
  3. Digitalisasi menggeser pola belanja meski harga bapok stabil.

 

TRIBUNJATIM.COM - Fenomena harga bahan pokok cenderung stabil tapi pembeli malah sepi di pasar tradisional terjadi saat Ramadan 2026.

Pada hari ke-10 bulan Ramadan 2026, Sabtu (28/2/26) Pasar Wonokromo Surabaya terpantau lengang.

Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rossanto Dwi Handoyo, S.E., M.Si., Ph.D., menilai stabilnya harga bapok menunjukkan peran pemerintah dalam menjaga pasokan dan distribusi berjalan cukup baik.

“Kalau harga stabil, berarti pemerintah berhasil menjaga pasokan. Apalagi di bulan Ramadan, kebutuhan pasti meningkat. Artinya, distribusi dari produsen sampai perlindungan konsumen sudah dijaga,” ujarnya saat diwawancarai Tribun Jatim dan Harian Surya, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Pedagang Mengeluh Pasar Wonokromo Sepi Meski Harga Bahan Pokok Stabil saat Ramadan 2026

Digitalisasi Ubah Pola Belanja Masyarakat

Meski harga relatif aman, Prof. Rossanto menilai penurunan aktivitas di pasar tradisional lebih disebabkan perubahan perilaku konsumen yang kini semakin terbiasa berbelanja secara online.

Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi titik balik percepatan digitalisasi. Masyarakat kini semakin akrab dengan marketplace maupun transaksi melalui media sosial seperti Facebook dan aplikasi pesan instan.

“Sekarang masyarakat sudah terbiasa dengan handphone. Semua serba online. Pola belanja berubah dan ini saya pikir sudah menjadi pola permanen,” tegasnya.

Kemudahan, kepraktisan, serta layanan antar langsung ke rumah membuat sebagian konsumen memilih berbelanja bahan pokok tanpa harus datang ke pasar tradisional.

Daya Beli dan Menyusutnya Kelas Menengah

Selain faktor digitalisasi, Prof. Rossanto juga menyoroti dampak jangka panjang pandemi terhadap struktur ekonomi masyarakat. Ia menyebut pandemi telah menurunkan jumlah kelas menengah di Indonesia.

“Sebelum Covid-19, kelas menengah kita sekitar 59 juta orang. Setelah pandemi turun menjadi sekitar 49 juta. Sampai sekarang belum sepenuhnya pulih,” jelasnya.

Penurunan kelas menengah ini berimbas pada daya beli masyarakat yang belum kembali seperti sebelum pandemi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang masih di kisaran lima persen dinilai belum cukup untuk mengakselerasi pemulihan pendapatan masyarakat secara signifikan.

“Kalau ingin mengejar kembali kondisi sebelum Covid-19, pertumbuhan ekonomi harus lebih top lagi agar bisa meng-catch up kelas menengah yang hilang,” tambahnya.

Ia juga menyoroti kelompok usia di atas 40 tahun yang sempat terkena PHK saat pandemi. Kelompok ini dinilai lebih sulit kembali ke pasar kerja, sehingga berdampak pada stabilitas pendapatan rumah tangga.

Pasar Tradisional Perlu Pembenahan

Terkait solusi, Prof. Rossanto menekankan pentingnya pembenahan menyeluruh pasar tradisional, baik dari sisi fisik maupun tata kelola.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved