Lipsus Pasar Tradisional Sepi
Pengamat Angkat Bicara soal Harga Bapok Stabil Tapi Aktivitas Pasar Tradisional Menurun
Meski harga relatif aman, Prof. Rossanto menilai penurunan aktivitas di pasar tradisional lebih disebabkan perubahan perilaku konsumen.
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Torik Aqua
Menurutnya, citra pasar tradisional yang identik dengan kumuh dan kotor masih menjadi hambatan utama. Pemerintah daerah perlu melakukan revitalisasi, peningkatan kebersihan, serta penataan fasilitas agar lebih nyaman bagi pembeli.
“Image pasar tradisional yang kumuh dan kotor harus diperbaiki. Fasilitasnya juga perlu dibenahi,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya transparansi harga antar pedagang agar tidak terjadi disparitas yang membingungkan konsumen. Informasi harga yang jelas dan seragam dinilai dapat meningkatkan kepercayaan pembeli.
“Informasi harga harus sempurna. Kalau harga telur sekian, ya sebaiknya relatif sama antar pedagang, supaya konsumen merasa nyaman,” katanya.
Tantangan Pasar Tradisional di Era Digital
Fenomena sepinya Pasar Wonokromo meski harga bapok stabil menjadi gambaran tantangan pasar tradisional di era digital. Stabilitas harga bukan lagi satu-satunya faktor penentu ramainya transaksi.
Perubahan perilaku konsumen, tekanan daya beli, hingga faktor kenyamanan dan kebersihan pasar menjadi variabel penting yang harus segera direspons.
Jika tidak beradaptasi, pasar tradisional berpotensi semakin tergerus oleh platform digital yang menawarkan kecepatan, kemudahan, dan efisiensi.
Prof. Rossanto berharap ada kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola pasar, dan pedagang untuk menghidupkan kembali pasar tradisional, khususnya di momentum Ramadan yang biasanya menjadi pendorong konsumsi rumah tangga.
“Perlu ada gerakan bersama untuk mengembalikan minat masyarakat agar kembali ke pasar tradisional,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Harga-cabai-rawit-di-Pasar-Induk-Among-Tani-Kota-Batu.jpg)