Tertutup Langit Mendung, Warga Surabaya Gagal Saksikan Gerhana Bulan Total

Langit yang tertutup awan tebal membuat kemunculan bulan tak terlihat sejak magrib hingga fase gerhana hampir berakhir.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Sulvi Sofiana
GERHANA BULAN - Mahasiswa Umsur saat berusaha melihat gerhana bulan dari atas Gedung At-Tauhid Tower di Umsura memakai teleskop refraktor berdiameter 71 mm. 
Ringkasan Berita:
  • Gerhana bulan total terjadi bertepatan dengan waktu magrib dan berbuka puasa.
  • Warga Surabaya tidak bisa menyaksikan fenomena karena tertutup awan tebal.
  • Secara astronomis, bulan sudah memasuki fase total sejak pukul 18.04 WIB.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Warga Kota Surabaya tak bisa saksikan fenomena gerhana bulan total yang terjadi bertepatan dengan waktu berbuka puasa, Selas (3/3/2026) kemarin. 

Langit yang tertutup awan tebal membuat kemunculan bulan tak terlihat sejak magrib hingga fase gerhana hampir berakhir.

Dosen Astronomi Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Andi Siti Maryam, mengatakan secara astronomis bulan seharusnya sudah memasuki fase total saat magrib.

Baca juga: Malam Ini, Gerhana Bulan Total Akan Hiasi Langit Malang Raya, Ini Waktu Puncaknya

Secara Astronomis Masuk Fase Total Saat Magrib

“Mestinya saat maghrib tadi karena ini bulan purnama. Dia akan terbit bersamaan dengan terbenamnya matahari. Jadi, mestinya saat kita buka puasa, bulan sudah terbit di timur,” ujarnya.

Ia menjelaskan fase total gerhana bulan dimulai pukul 18.04 WIB hingga 19.02 WIB. Pada fase tersebut, bulan seharusnya tampak berwarna merah sepenuhnya akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.

“Kalau fase total itu terlihat merah semuanya,” katanya.

Baca juga: Ponpes Al Islah Bondowoso Tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026: Patokan Gerhana Matahari

Setelah pukul 19.02 WIB, gerhana memasuki fase sebagian dan berakhir pada pukul 20.17 WIB. Namun, kondisi cuaca di Surabaya tidak mendukung pengamatan.

“Sampai sekarang belum kelihatan. Tadi sempat ada secercah cahaya di posisi bulan, tetapi masih belum bisa diamati jelas,” jelasnya.

Pengamatan Gunakan Teleskop Refraktor

Menurut Andi, berdasarkan pemantauan di lingkungan kampus Umsura, fenomena tersebut tidak dapat terlihat karena awan yang cukup tebal menutupi langit.

“Di Surabaya, khususnya di Universitas Muhammadiyah Surabaya, kali ini tidak terlihat karena awannya cukup tebal,” ucapnya.

Dalam upaya pengamatan, tim menggunakan teleskop refraktor berdiameter 71 mm serta kamera DSLR. Secara teknis, peralatan tersebut dinilai memadai untuk mengamati detail permukaan bulan.

“Refraktor 71 mm sebenarnya cukup mampu untuk melihat detail bulan, termasuk kawah-kawah dan perbedaan terang-gelap permukaannya, tetapi karena tertutup awan, pengamatan tidak maksimal,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved