Evaluasi Prodi di Perguruan Tinggi

Rektor ITS: Kampus Bukan Sekadar Pencetak Tenaga Kerja, Lulusan Harus 'Future Ready'

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menilai evaluasi program studi di perguruan tinggi tidak bisa hanya didasarkan pada ukuran

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Sudarma Adi
Tribun Jatim Network/Sulvi Sofiana
ITS - Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD dalam Rapat Pimpinan pembahasan Rencana Strategis ITS 2026-2030 

Ia menjelaskan evaluasi di ITS lebih banyak menyentuh pembaruan kurikulum, model pembelajaran, fleksibilitas lintas disiplin, penguatan riset, hingga kolaborasi dengan industri dan masyarakat.

“Orientasinya menata dan merevitalisasi, bukan sekadar menghilangkan,” katanya.

Menurut Machsus, program studi terapan memang cenderung lebih cepat beradaptasi terhadap kebutuhan praktis industri karena sifatnya yang lebih aplikatif. Meski begitu, program studi ilmu dasar tetap memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi masa depan.

Ia mencontohkan matematika murni yang kini menjadi fondasi bagi perkembangan artificial intelligence (AI), keamanan siber, kriptografi, hingga financial technology.

Karena itu, ia menilai relevansi program studi tidak bisa hanya diukur dari tren pasar kerja jangka pendek atau tingkat serapan lulusan sesaat.

“Kalau evaluasi hanya berbasis serapan kerja sesaat, ada risiko kita menyederhanakan fungsi pendidikan tinggi hanya sebagai pemasok tenaga kerja,” jelasnya.

Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital ITS, Wisya, menilai pendidikan tinggi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai jalur untuk mencari pekerjaan.

Menurutnya, kuliah pada dasarnya merupakan ruang belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga penutupan program studi hanya karena ukuran kebutuhan kerja terasa kurang tepat.

“Beberapa kali diskusi sama teman-teman, terutama anak soshum, rasanya agak aneh kalau prodi ditutup. Karena esensi kuliah itu belajar, bukan hanya cari kerja,” ujarnya.

Ia menilai setiap mahasiswa memiliki tujuan berbeda ketika menempuh pendidikan tinggi. Ada yang berorientasi masuk dunia industri, tetapi ada pula yang menikmati proses belajar dan memilih jalur akademik.

Wisya juga menilai proses belajar di perguruan tinggi tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh pembelajaran mandiri atau daring karena mahasiswa tetap membutuhkan pendampingan langsung dari dosen.

“Mungkin sekarang ada banyak opsi belajar mandiri atau belajar online, tapi tetap berbeda dengan belajar langsung dibimbing dosen,” pungkasnya.

Yang Dievaluasi ITS

Bukan:

✘ Siap kerja atau tidak
✘ Tinggi-rendah peminat saja
✘ Serapan kerja jangka pendek semata

Tetapi:

  Kemampuan adaptasi lulusan
  Fondasi keilmuan
  Relevansi masa depan
  Soft skill dan logical thinking
  Kemauan belajar (willing to learn)

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved