Wayang dan Karawitan Didorong Jadi Ekstrakurikuler di Sekolah Surabaya
Seni tradisional terus berupaya menjaga asa di tengah gemerlap modernisasi Kota Surabaya yang bergerak dinamis.
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Seniman wayang di Surabaya berharap seni pedalangan dan karawitan bisa masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah agar budaya tradisional tetap dikenal generasi muda.
- Ketua Pepadi Surabaya, Ki Madiro, menilai minat anak muda terhadap wayang mulai menurun karena lebih tertarik hiburan instan di media sosial dan minim pemahaman bahasa Jawa.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Koloway
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA — Seni tradisional terus berupaya menjaga asa di tengah gemerlap modernisasi Kota Surabaya yang bergerak dinamis.
Tak ingin tergilas roda zaman, para seniman lokal berharap generasi penerus dapat mengenal budaya daerah sebelum akhirnya ikut melanjutkan perjuangan menjaga kearifan lokal.
Bunyi gamelan terdengar pelan dari sudut Sanggar Budi Rahayu di Surabaya.
Di sanggar yang berlokasi di Jalan Ploso Bogen No. 27, Kelurahan Ploso, Kecamatan Tambaksari, Surabaya itu, sejumlah seniman tampak duduk melingkar.
Ada yang belajar menabuh gamelan, ada pula yang berlatih sinden dan membawakan bahasa Jawa ala pembawa acara tradisional.
Meski memiliki rentang usia berbeda, mereka tampak kompak menampilkan kemampuan masing-masing.
Baca juga: Dari Kayu Waru, Perajin Jombang Lestarikan Tradisi Wayang Topeng Jatiduwur
Sekalipun cukup antusias, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Surabaya, Ki Madiro, mengaku menyimpan kegelisahan.
Dia menilai regenerasi pelaku seni tradisional kini menjadi tantangan terbesar.
“Sekarang ini anak-anak muda sukanya hiburan yang instan lewat media sosial dan YouTube. Sehingga untuk datang ke acara pentas itu agak malas,” ujarnya ketika ditemui belum lama ini.
Menurut dia, persoalan bukan hanya soal minat menonton, tetapi juga pemahaman terhadap bahasa dan tokoh dalam pewayangan.
Banyak anak muda mulai asing dengan cerita wayang dan bahasa Jawa yang digunakan dalam pementasan.
Karena itu, para seniman pedalangan di Surabaya mendorong agar seni pedalangan dan karawitan bisa masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
"Keluhan anak-anak muda itu enggak ngerti bahasanya. Sehingga kami berharap di sekolah-sekolah itu pelajaran bahasa daerah atau bahasa Jawa ini didalangkan lagi supaya kesenian tradisional tidak ditinggalkan,” katanya.
| Wabup Sumenep Ingatkan Jemaah Haji: Toro' Oca' Ka Petugas Makle Tak Posang |
|
|---|
| Jawab Tantangan Masa Depan, Unesa Evaluasi Prodi Sepi Peminat: Opsi Merger hingga Transformasi Nama |
|
|---|
| Rektor ITS: Kampus Bukan Sekadar Pencetak Tenaga Kerja, Lulusan Harus 'Future Ready' |
|
|---|
| Kunjungi UM Surabaya, Mendiktisaintek Dorong Hilirisasi Riset Berbasis Kebutuhan Daerah |
|
|---|
| Kemensos Gandeng UINSA Awasi LKS, Gus Ipul Warning soal Indonesia Emas 2045 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Para-seniman-Sanggar-Budi-Rahayu-bersama-Pepadi-bertemu-Anggota-DPR.jpg)