Harga Tiket Pesawat Makin Mahal, Dosen Unair Soroti Dampak bagi Pariwisata

Tingginya harga tiket pesawat domestik kembali menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. 

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Ndaru Wijayanto
Istimewa
Dosen Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) , Nilzam Aly, S.Hum., M.Sc., menilai mahalnya harga tiket pesawat domestik menjadi persoalan serius yang perlu segera dievaluasi pemerintah. 

 

Ringkasan Berita:
  • Dosen Unair menilai mahalnya tiket pesawat domestik menjadi ancaman serius bagi perkembangan pariwisata lokal di Indonesia.
  • Tingginya harga tiket membuat banyak wisatawan Indonesia lebih memilih bepergian ke luar negeri karena dinilai lebih murah.
  • Dampak yang dirasakan daerah wisata antara lain penurunan jumlah wisatawan, rendahnya okupansi hotel, hingga melambatnya ekonomi lokal.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Tingginya harga tiket pesawat domestik kembali menjadi perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir. 

Kondisi ini memunculkan fenomena baru, di mana banyak wisatawan Indonesia lebih memilih bepergian ke luar negeri karena biaya perjalanan dinilai lebih terjangkau dibanding menjelajahi destinasi wisata dalam negeri.

Dosen Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) , Nilzam Aly, S.Hum., M.Sc., menilai mahalnya harga tiket pesawat domestik menjadi persoalan serius yang perlu segera dievaluasi pemerintah. 

Menurutnya, tingginya harga tiket pesawat tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas layanan sektor penerbangan.

"Mahalnya harga tiket pesawat memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata lokal. Banyak masyarakat akhirnya memilih berwisata ke luar negeri sehingga kondisi tersebut berpotensi mengurangi pergerakan wisatawan domestik ke berbagai destinasi di Indonesia, " urainya, Selasa (20/5/2026). 

Baca juga:  Biaya Paket Umrah Terdampak Kenaikan Harga Tiket Pesawat, Amphuri Desak Pemerintah Bertindak

Padahal, sektor pariwisata sangat bergantung pada mobilitas masyarakat, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia.
Ia menilai aksesibilitas udara yang terjangkau menjadi modal penting dalam mendukung perkembangan destinasi wisata daerah. 

Namun, tingginya harga tiket pesawat justru menghambat pertumbuhan pariwisata, khususnya di kawasan Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua.

“Dampak yang paling terasa yaitu penurunan tingkat kunjungan wisatawan, rendahnya okupansi penginapan, hingga melambatnya pertumbuhan ekonomi lokal dari sektor pariwisata,” jelasnya.

Baca juga: Dampak Perang Iran-Israel: Mahasiswa Asal Yaman Batal Mudik Lebaran Akibat Tiket Pesawat Melambung

Nilzam menuturkan, sejumlah komponen biaya turut mendorong tingginya harga tiket pesawat domestik yang dibebankan kepada penumpang.

Faktor tersebut meliputi harga avtur yang sangat bergantung pada kondisi geopolitik internasional, service tax bandara untuk tata kelola bandara, hingga kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen.

“Pemerintah memang menanggung PPN 11 persen untuk tiket kelas ekonomi melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24 Tahun 2026, tetapi kebijakan itu hanya berlaku sampai 23 Juni 2026 dan belum menyentuh akar persoalan mahalnya tiket pesawat domestik,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah perlu meninjau kembali biaya layanan bandara dan kebijakan pajak yang berada di bawah kendali negara agar mobilitas masyarakat, khususnya sektor pariwisata, dapat meningkat.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif terhadap pembukaan rute baru guna memperluas pemerataan destinasi wisata daerah di Indonesia.

“Persoalan utamanya bukan pada kondisi geografis Indonesia, tetapi pada tata kelola penerbangan yang masih perlu dibenahi,” pungkasnya

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved