Dua Bangkai Ikan Hiu Tutul di Gresik Akan Dibawa ke KKP

- Dua bangkai hiu tutul yang ditemukan nelayan Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas, Gresik di perairan Tanjung Perak Surabaya

Dua Bangkai Ikan Hiu Tutul di Gresik Akan Dibawa ke KKP
SURYA/MOHAMMAD ROMADONI
Ikan hiu tutul saat diseret di tepi Kali Lamong Desa Sukorejo Kecamatan Kebomas, Gresik menjadi tontonan warga, Selasa (3/7/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Dua bangkai hiu tutul yang ditemukan nelayan Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas, Gresik di perairan Tanjung Perak Surabaya akan dibawa ke instalasi karantina Puspa Agro oleh tim Badan Karantina Ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan (BKIPM) Kelas II Surabaya.

Bangkai ikan hiu tutul yang sudah di tepi sungai Kali Lamong, Desa Sukorejo Kecamatan Kebomas Gresik itu diangkut menggunakan truk.

Namun, para nelayan kesulitan untuk membawa ke tepi jalan dan mengakut ke atas bak truk.

Warga terpaksa menggunakan tali tampar untuk mengikat bagian tubuh bangkai ikan hiu tutul, kemudian ditarik dengan truk agar bisa sampai ke jalan desa. Setelah itu diangkat menggunakan crane.

Baca: 4 Tahun Menikah Diterpa Banyak Isu, Nagita Slavina Ungkap Pandangan Barunya Terkait Rumah Tangga

Petugas Badan Karantina Ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan (BKIPM) Kelas II Surabaya Laoude Abdul Syafar mengatakan bahwa bangkai ikan hiu tutul itu akan dibawa ke instalasi karantina Puspa Agro.

"Setelah itu akan dimasukan dalam ruang pendingin. Biar awet untuk dibawa ke Jakarta ke Kementerian Kelautan," kata Laoude Abdul Syafar, saat menunggu evakuasi bangkai ikan hiu tutul dengan didampingi Kepala Desa Fatkhur Rokhman, Rabu (4/7/2018).

Sementara Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut wilayah kerja (Wilker) Jawa Timur Gigih Aribowo mengatakan bahwa, penyebab kematian hiu tutul ini belum bisa diketahui. Untuk mengetahui penyebab kematian harus dilakukan nekropsi.

"Kalau ingin diketahui penyebab kematian ikan harus dinekropsi. Seperti diotopsi kalau manusia. Tapi kemungkinan penyebab kematian bisa dari tersenggol kapal, polusi air dan makan plastik," kata Gigih Aribowo.

Dari banyaknya ditemukan bangkai ikan hiu tutul di wilayah Laut Jawa Timur, Gigih menyatakan kepada para nelayan agar tidak membawa bangkai hiu tutul ke tepi laut. Sebab, jenis ikan tersebut tergolong ikan yang dilindungi pemerintah.

"Kalau ada ikan hiu tutul di laut masih hidup biarkan saja. Kalau sudah mati di tengah laut ya biarkan saja. Sebab ini hewan dilindungi, jadi tidak boleh dimanfaatkan," imbuhnya.

Baca: Hasil Rekap KPU Tuban, Khofifah Menang dari Gus Ipul, Berikut Selisihnya

Sementara nelayan Desa Sukorejo Kecamatan Kebomas yang menemukan bangkai ikan hiu tutul itu mengatakan rela bangkai ikan dibawa ke Jakarta. Sebab, niatan membawa ikan ke kampung hanyalah untuk menguburnya.

"Kita ikhlas ikan dibawa ke Jakarta. Niatan kita membawa ke kampung karena ingin menunjukkan ke warga jenis dan bentuk ikan hiu tutul ke masyarakat," kata Muhammad Shokib (37).

Sedangkan Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Gresik Abu Hasan mengatakan bahwa ikan hiu tutul merupakan jenis ikan yang dilindungi oleh pemerintah sehingga tidak boleh dimanfaatkan oleh masyarakat.

"Ikan hiu tutul itu termasuk ikan yang lindungi tidak boleh dikonsumsi. Kalau mati ya dikubur," kata Abu Hassan. (Surya/Sugiyono).

Penulis: Sugiyono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved