Angkat Potensi Tapal Kuda, Mahasiswa PSTF Universitas Jember Bikin Film Dokumenter Tanpa Narasi

Tiga mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Riandhani Yudha Pamungkas, M. Sudrajat dan Alfian

Angkat Potensi Tapal Kuda, Mahasiswa PSTF Universitas Jember Bikin Film Dokumenter Tanpa Narasi
(surya/Erwin Wicaksono)
Suasana pemutaran Film Etanan di bioskop NSC Jember Sabtu lalu (30/6). 

 TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Tiga mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Riandhani Yudha Pamungkas, M. Sudrajat dan Alfian Parahita membuat film dokumenter berisi potensi wilayah Tapal Kuda berjudul Etanan.

Uniknya, film berdurasi kurang lebih 45 menit ini hanya menampilkan gambar saja tanpa narasi ! Pembuatan film Etanan ini sekaligus sebagai tugas akhir studi mereka bertiga di PSTF FIB Universitas Jember.

Istimewanya, jika ujian skripsi program studi lain cukup dilaksanakan di dalam kelas, mereka bertiga berinisiatif mempertanggungjawabkan karyanya dengan cara memutar film Etanan di bioskop NSC Jember sebanyak dua kali, pada tanggal 30 Juni dan 8 Juli 2018 lalu.

Baca: Diwawancarai Voice of America, Anas Paparkan Kesiapan Banyuwangi Sambut IMF-WB

“Ide awal pembuatan film Etanan berasal dari potensi daerah Tapal Kuda atau Besuki Raya yang melimpah, namun belum dimanfaatkan secara maksimal, baik potensi pertanian, wisata hingga sumberdaya manusianya,” tutur Riandhani Yudha Pamungkas atau yang sering disapa Rian, memulai penjelasannya saat ditemui di area Gedung CDAST Kampus Tegalboto Rabu (11/7/2018). Siang itu Rian didampingi dua koleganya.

“Namun di sisi lain kami tidak ingin menggurui penonton, makanya film dokumenter yang kami buat sengaja hanya menampilkan gambar saja, silahkan penonton yang menafsirkan sendiri,” tambah M. Sudrajat, sang editor yang biasa dipanggil Ipung. Dalam kajian film dokumenter, garapan mereka bertiga masuk dalam kategori association picture story.

Tak tanggung-tangung, ketiganya mempersiapkan pembuatan film Etanan secara serius, butuh waktu empat tahun untuk menyelesaikan film dokumenter sepanjang 45 menit.

“Dua tahun untuk mencari data dan mempelajarinya, serta dua tahun untuk proses pengambilan gambar dan editing,” kata Alfian yang bertugas sebagai Director of Photography alias pengambil gambar, sementara untuk ide, naskah dan sutradara dipegang oleh Rian.

“Di tahapan pra produksi, yang paling sulit itu menerjemahkan data menjadi bentuk gambar, sementara di saat produksi kesulitan yang mendera adalah saat harus mengambil gambar di lokasi-lokasi yang belum tersentuh infrastruktur,” imbuh Rian yang asli Bantul, Yogyakarta.

Gara-gara asyik mempersiapkan film Etanan, masa kuliah mereka harus molor, padahal mereka bertiga adalah mahasiswa angkatan 2012.

Usaha ketiganya tak sia-sia, pengorbanan tenaga, waktu dan materi terbayar lunas setelah mendapatkan apresiasi baik dari dosen penguji maupun penonton yang hadir di bioskop NSC.

Baca: Viral! Modus Pemalakan Sopir Truk, Pelaku Jual Stiker Pengawalan Sasaran di Jalur Pantura Tuban

Halaman
12
Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help