Mahasiswa UB Malang Bikin Mobil Gokart Pakai Energi Listrik, yang Sanggup Melaju 80 KM Perjam
Sanggup melaju hingga 80 KM perjam, inilah mobil Gokart pakai energi listrik bikinan mahasiswa UB Malang.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Malang memiliki prototipe kendaraan listrik dan bentuknya mirip mobil gokart. Prototipe ini dikembangkan oleh Kelompok Penelitian Kendaraan Listrik di prodi tersebut.
Saat diujicoba dihadapan wartawan, Selasa (2/10/2018) di jalanan depan Gedung B FT, Hafidh Hidayat selaku driver terlihat mengeluarkan smartphone dari sakunya.
Smartphone itu berfungsi untuk menyalakan dan mematikan, untuk maju mundurnya kendaraan.
• Gara-gara Kunci, Lima Arloji Bermerk Senilai Puluhan Juta Milik Warga Kota Malang Raib
Menurut Hafidh, awalnya smartphone juga berfungsi buat spedometer. Namun karena terkena sinar matahari jadi tak terlihat. Akhirnya masih difungsikan terbatas.
"Pemakaian smartphone agar tak banyak kabel di kendaraan ini," ujarnya.
Pembuatan Smart Electric Vehicle (SMV) dirintis sejak dua tahun lalu sebagai riset. Dijelaskan Bayu, biasanya gokart memakai energi motor bakar.
"Meski gokart ini pakai energi baterai, namun kecepatannya relatif sama," tandas Hafidh.
• Paksa Anak Tetangga Mengemis di Depan RSUD dr Soebandi Jember, Pria ini Juga Ancam Bunuh si Bocah
Sebenarnya tim ingin ada pengembangan kapasitas beterai. Tapi di kendaraan sudah sangat sempit.
Sebelum dipakai, baterai bisa diisi 1-1,5 jam. Setelah itu dipakai berkendara. Kecepatannya bisa mencapai 70 sampai 80 km/jam. Ditambahkan Hafidh, mengendarai kendaraan rendah juga menyenangkan.
"Kalau nyetirnya ya sama aja dengan nyetir mobil. Tapi kalau di gokart ini kan lebih rendah," kata Hafidh. Apalagi jika melewat jalan naik sedikit sudah nyantol.
"Kalau jalanan di kampus UB 2 kan rata. Jadi pakai kecepatan tinggi gak masalah," imbuh Bayu A Pamungkas, anggota tim lainnya.
• Cabuli Siswi Renangnya yang Masih Bocah, Perbuatan Pelatih Joko Terbongkar Berkat Secarik Kertas
Tim beranggotakan 30 mahasiswa dan dibantu para dosen ini berharap ada pengembangan dari prototipe SEV.
Namun biayanya juga mahal. Sehingga butuh support. Namun sebagai mahasiswa, dengan adanya proyek ini, maka bisa belajar banyak.
"Nggak melulu belajar di kelas. Adanya SEV juga belajar terampil misalkan di mekanik dan lain-lain," tegas Bayu. (Sylvianita Widyawati)
• Warga di Apartemen dan Kondominium Sulit Diawasi, Pemkot Surabaya Buat Aturan Baru Tembus Penolakan