Wabup Trenggalek Hilang Beberapa Hari, SCG Nilai Terkait Dengan Intervensi Penunjukan Wabup Baru

Wabup Trenggalek Hilang Beberapa Hari, SCG Nilai Terkait Dengan Intervensi Penunjukan Wabup Baru.

Wabup Trenggalek Hilang Beberapa Hari, SCG Nilai Terkait Dengan Intervensi Penunjukan Wabup Baru
TRIBUNJATIM.COM/SOFYAN ARIF CANDRA
Wabup Trenggalek, Nur Arifin saat menjadi pembicara pada acara Kopdarnas #2019TetapBersaudara dalam rangka menyongsong tahun politik yang diselenggarakan di Hotel Namira, Surabaya, Minggu (23/9/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Lembaga Riset Politik Surabaya Consulting Group (SCG) ikut menyoroti perihal menghilangnya Wabup Trenggalek, Muhammad Nur Arifin (Ipin) selama lebih kurang sembilan hari terakhir.

Menurut Direktur Komunikasi Politik SCG, Aprizaldi, publik berhak tahu perkara sesungguhnya di balik polemik yang dipublikasikan di media massa yang melibatkan Ipin dengan Bupati Trenggalek, Emil Dardak yang memuncak dalam dua hari terakhir ini.

Wabup Trenggalek Dikabarkan Hilang, PDIP Sebut Ada Kelompok yang Incar Posisi yang Akan Ditinggalkan

Salah satu faktornya, menurut Aprizaldi, adalah adanya tekanan-tekanan politik terkait penunjukan Wabup baru, setelah Arifin naik jabatan menjadi bupati seiring dilantiknya Emil Dardak sebagai Wagub Jatim.

”Ada rumor politik bahwa Ipin ditekan pihak tertentu untuk menerima sosok wabup baru. Kabarnya sosok itu adalah kepala dinas. Padahal, sebagai bupati nanti, Mas Ipin perlu orang sehati untuk membangun Trenggalek. Sehingga perlu berbicara dari hati ke hati. Bukan hasil tekanan dan titipan," kata Aprizaldi, Selasa (22/1/2019).

PDIP Sebut Ipin Menepi setelah Dapat Tekanan Politik Terkait Wabup Trenggalek Baru

Aprizaldi melanjutkan, narasi tersebut perlu diketahui publik karena selama ini yang nampak adalah soal menyudutkan Ipin yang tidak muncul ke publik beberapa hari ini.

"Sepertinya itu plot yang ingin dibangun Mas Emil karena beliau sendiri yang memulai narasinya dengan berbicara di media,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti sikap Arifin yang lebih cenderung diam menyikapi polemik tersebut jika dibandingkan Emil.

Diamnya Arifin menurut Aprizaldi bisa dimaknai dalam dua tafsir politik.

Pertama, sebagai bentuk kesantunan berpolitik karena Arifin memang bawahan Emil.

“Mas Ipin dikenal sebagai santri, aktif di Ansor Jatim. Tradisi santri selalu taat kepada seniornya. Sikap diamnya bisa dimaknai bahwa dia menghormati Mas Emil sebagai senior dan atasan, sehingga tak mau berpolemik terbuka,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved