Pasangan Pengantin di Desa Kemiren Banyuwangi Diantar Barong
Pasangan suami-istri akan diantar oleh rombongan barong, sekitar satu kilometer, menuju tempat resepsi pernikahan yang biasanya di rumah pengantin.
Penulis: Haorrahman | Editor: Adi Sasono
TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Kemiren dikenal sebagai desa adat Suku Osing, suku asli Banyuwangi.
Warga desa ini berusaha menjaga tradisi Suku Using, termasuk arak-arakan barong, tradisi pengiring pengantin.
Tidak hanya untuk pengantin, arak-arakan barong juga biasa digunakan untuk mengiringi anak yang baru dikhitan.
Dalam tradisi ini, pasangan suami-istri akan diantar oleh rombongan barong, sekitar satu kilometer, menuju tempat resepsi pernikahan yang biasanya di rumah pengantin.
Saat arak-arakan, macan-macanan, pitik-pitikan, dan barong, mengawal pengantin.
Pengantin duduk di kereta kuda berhias bunga bagaikan raja dan ratu.
Masyarakat menyaksikan arakan-arakan ini dari depan rumah mereka.
Banyak pula warga yang ikut serta mengawal pengantin hingga ke resepsi pernikahan.
Sucipto, sesepuh sekaligus pemilik sanggar barong di Kemiren mengatakan, banyak filosofi yang mengapa barong dikaitkan dalam pesta pernikahan.
Ini karena, barong merupakan seni tradisi yang erat kaitannya dengan keluarga.
”Barong itu memikiki banyak filosofi tentang kehidupan dalam berumah tangga,” kata Sucipto.
Sucipto menjelaskan, Barong Kemiren berbeda dengan barong-barong lainnya. Tiap bagian Barong memiliki arti.
Dua sayap barong bermakna terbanglah tinggi untuk mencari pekerjaan (nafkah) untuk keluarga.
Mulut barong yang selalu terbuka, memiliki arti jangan sampai keluarga kelaparan.
Ansang, yang bermakna jangan iri atau dengki apabila ada kerabat atau tetangga bisa memiliki barang-barang apapun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/barong-kemiren_20170318_173309.jpg)