Breaking News
Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Sumur Ambles

Mengerikan! Inilah Video Saat 58 Sumur di Lereng Kelud Tiba-tiba Ambles dan Ambol

Ambles dan ambrolnya 58 sumur warga di Desa Manggis, Kediri yang berada di lereng Gunung Kelud ternyata memiliki tanda-tanda yang sama.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Mujib Anwar
SURYA/DIDIK MASHUDI
Salah satu sumur warga yang ambrol dan ambles di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Rabu (26/4/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Ambles dan ambrolnya 58 sumur warga di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri memiliki tanda-tanda yang sama.

Sebelum mulai ambles, puluhan sumur yang berada di wilayah lereng Gunung Kelud tersebut mengeluarkan gelembung air.

Kemudian air sumur berubah menjadi keruh sehingga airnya tidak dapat dikonsumsi. Namun debit permukaan sumur kemudian naik.

"Kami heran, bukan waktunya musim hujan airnya sudah naik. Namun dampaknya sumur kami kemudian ambles," ungkap Sutrisno (50), warga setempat kepada Surya, Kamis (27/4/2017).

Baca: Geger Fenomena Alam Langka di Kediri, 55 Sumur Warga Tiba-tiba Ambles dan Ambrol, Begini Akibatnya

Rata-rata kedalaman sumur di Desa Manggis berkisar antara 18 - 20 meter. Namun saat debit air sumur naik kedalaman sumur hanya sekitar 5 meter.

Namun debit air sumur yang naik itu merusak pondasi sumur yang kemudian ikut ambles. "Setelah debitnya naik, besuknya sumur kami ambrol," jelasnya.

Kejadian itu berlangsung beruntun menimpa sumur di sekitar rumah Sutrisno.

Malahan dalam radius sekitar 100 meter, terdapat belasan sumur yang sudah rusak dan beberapa di antaranya mulai ada tanda-tanda bakal menyusul rusak.

Baca: Bahaya, Sumur Ambles dan Ambrol di Kediri Makin Banyak, Warga Langsung Lakukan ini

Bahkan, sumur di rumah Ponidi ambles dan ambrolnya berlangsung lebih cepat. Hanya berselang beberapa hari setelah airnya keruh, setelah itu sumur langsung ambles ditelan bumi.

Praktis kini Ponidi sudah kehilangan sumber mata air untuk keperluan sehari-hari. Demikian pula warga sekitar rumahnya juga mulai kebingungan.

"Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Ini kejadian luar biasa yang baru pertama kali terjadi di desa kami," ungkap Ponidi.

Apalagi ada tanda-tanda kasus serupa semakin meluas. Terbukti hasil pendataan terbaru, jumlah sumur milik warga tiga dusun di Desa Manggis yang ambles dan ambrol telah mencapai 58.

Karena takut, warga yang sumurnya ambles juga sudah mulai menimbun dan menguruk dengan tanah.

"Kami khawatir kalau tidak segera ditimbun yang ambrol bakal semakin meluas dan berdampak pada rumah yang saya tinggali," ungkap Misman (62) kepada Surya.

Baca: Pakar Bencana ITS: Awas, Ambles dan Ambrolnya 55 Sumur Pertanda akan Longsor

Sumur di rumah Misman kini sudah ditimbun tanah dan terlihat rata. Namun di bekas sekitar lokasi sumur ditemukan sejumlah retakan tanah.

Malahan retakan tanah juga mulai mengenai tembok dapur. "Sejak kami tinggal di Desa Manggis, ini kejadian pertama yang kami alami," tambahnya.

Hampir semua warga yang berada di lereng Gunung Kelud itu tidak mengetahui penyebab fenomena alam langka yang sedang terjadi di desa tersebut.

Fenomena alam langka ambles dan ambrolnya 58 sumur warga yang tinggal di Lereng Gunung Kelud ini menarik perhatian Amien Widodo, Pakar Bencana dari ITS Surabaya.

Menurut Amien, ambles dan ambrolnya puluhan sumur milik warga di Dusun Dorok, Dusun Jambean dan Dusun Nanas yang berada di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri merupakan pertanda akan adanya longsor.

Sumur ambles dan ambrol tersebut karena adanya retakan tanah di wilayah tersebut.

"Makanya pada tahap awal area dengan lubang akan terlebih dulu ambles dan ambrol," ujarnya.

Jika berkaca peristiwa longsor di Ponorogo, juga terjadi retakan tanah dan penurunan permukaan tanah.

Hanya saja peristiwa di Ponorogo, kata Amien Widodo yang juga Koordinator Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS ini berlangsung selama tiga minggu secara bertahap.

“Kalau sudah 55 sumur itu cukup parah, bisa jadi nanti tahap airnya hilang dan tanahnya ambles," tegasnya.

Apalagi kalau curah hujan tinggi, maka harus segera diamankan. Karena bisa saja tiba-tiba longsor.

Ia menjelaskan, peristiwa longsor terjadi akibat lapukan tanah yang cukup tebal di pegunungan.

Lapukan yang awalnya diikat oleh akar tanaman saat ini tidak ada yang menahan. Sehingga tanah tersebut akan ambrol saat air hujan memasuki rongga lapukan dan membuat masaa tanah semakin berat.

“Fenomena ini tidak karena penebangan 1 atau 2 tahun yabg lalu, tapi belasan tahun lalu. Sekarang baru dampaknya terlihat semua,” ucapnya.

Ditambahkan, peristiwa retaknya tanah di area lereng pegunungan menurutnya juga terjadi di Nganjuk dan Madiun sebelum longsor. Sebab, banyak area hutan yang telah dijadikan lahan pertanian.

“Retakan ini biasanya 300 meter, jadi bisa dilihat nanti apa kampung lainnya juga berjarak hingga sepanjang itu dengan lokasi ambrolnya sumur,” tegas Amien. (Surya/Didik Mashudi)

Dibawah ini video ambrolnya sumur warga di lereng Gunung Kelud, Kediri:

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved