Situs Purbakala di Wajak Peninggalan Mataram Hindu, Ternyata Ini . . .

Keberadaan situs purbakala di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang dipastikan adalah petirtaan.

Situs Purbakala di Wajak Peninggalan Mataram Hindu, Ternyata Ini . . .
Setyo Adi Nugroho/Kompas.com
Galian situs Majapahit di belakang Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. 

 TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Keberadaan situs purbakala di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang dipastikan adalah petirtaan.

Petirtaan adalah bangunan semacam kolam pemandian, umumnya memiliki sumber air atau pancuran. Informasi itu disampaikan Koordinator Candi se Malang Raya yang juga koordinator Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) di Malang Raya Hariyoto kepada Surya (Tribunnews.com Network) , Kamis (27/4/2017).

Temuan itu juga disebut temuan terbesar di Malang Raya dalam beberapa dekade belakangan ini. Hariyoto mengatakan, ada lima petirtaan yang ditemukan di lokasi sejauh ini. Jumlahnya diperkirakan bisa bertambah karena saat ini banyak situs yang masih tertutup rerumputan dan terpendam tanah.

“Panjangnya sekitar 100 meter,” kata Hariyoto kepada Surya (Tribunnews.com Network) , Kamis (27/4/2017).

Masih oleh Hariyoto, petirtaan itu diperkirakan berasal dari Kerajaan Mataram Hindu, peninggalan Mpu Sendok. Petirtaan itu digunakan untuk mandi para raja, keluarga kerajaan dan pejabat kerajaan. Petirtaan selalu dibuat di tempat-tempat tertentu yang biasanya memiliki sumber mata air.

Baca: Situs Purbakala Diduga Bekas Kolam Pemandian Ditemukan di Wajak dan Tidak Terawat

Hariyoto juga mengatakan kalau sebenarnya situs itu sudah lama diketahui oleh warga, namun warga tidak tahu harus melapor ke mana. Alhasil, keberadaan situs itu tidak diketahui oleh petugas BPCB.

Petugas BPCB baru mengetahui keberadaan situs setelah seorang netizen mengunggahnya di sosial media. Sehari pasca diunggahnya foto-foto situs petirtaan itu, tim Kepala BPCB Andi Muhammad Said datang langsung ke lokasi didampingi beberapa stafnya.

Saat ini situs dijaga oleh perangkat desa yang dikoorinir langsung oleh kepala desa setempat. Penjagaan diperketat di kawasan situs karena orang mulai banyak berdatangan ke lokasi. Di sisi lain, tim BPCB rencananya juga akan datang kembali untuk melakukan penelitian lebih lanjut di situs itu. (Surya/Benni Indo)

Penulis: Benni Indo
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved