Semarak Ramadan

Ritual Berburu 'Berkah' Malam Jumat Kliwon di Masjid Kuno Kyai Ageng Muhammad Besari

Di sekitar Mihrab dan Mimbar dianggap sebagai tempat yang paling sakral oleh jamaah.

Tayang:
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Mujib Anwar
SURYA/RAHADIAN BAGUS
Masjid Tegalsari, masjid kuno yang dibangun Kyai Ageng Muhammad Besari di Ponorogo. 

"Aslinya genteng, namun ada pemugaran kemudian diganti sirap (kayu jati)," katanya.

Dikatakannya, terdapat tiga tingkatan atap atau yang memiliki filosofi tiga hal yang harus dimiliki umat Islam, yakni Iman, Islam, dan Ihsan.

Pada bagian atap paling atas terdapat tempayan terbalik yang merupakan peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari. Tempayan dari tanah liat berdiamter sekitar satu meter itu dipasang pada bagian atap paling atas hingga menyerupai kubah.

Baca: Makam Gus Miek, Pencipta Dzikrul Ghofilin Banjir Peziarah Selama Ramadan, Juga Dari Luar Negeri

Di bagian depan masjid, terdapat batu "bancik" yang ada di depan masjid konon di ambil dari bangunan kerajaan Hindu Majapahit setelah kerajaan itu runtuh.

Batu tersebut, kata Kunto dulunya kerap dipakai Kyai Ageng Mohammad Besari duduk pada saat sholawat dan berdoa. Bentuk permukaan tiga batu yang memiliki ukuran yang berbeda itu tidak rata.

Menurutnya, ada sejumlah pengunjung yang usil mengambil bagian dari batu untuk dibawa pulang. "Kadang ada yang sengaja mengambil, nggak tahu bagaimana caranya. Makanya sebenarnya saya ingin itu agar ditutup saja," katanya.

Di samping masjid juga terdapat sumur. Sumur itu, kata Kunto tidak pernah kering, meskipun pada saat musim kemarau tiba. Beberapa orang juga meyakini, air dari sumur itu mengandung khasiat.

Beberapa meter dari Masjid, di sebelah timur terdapat Surau dan juga kediaman atau rumah Kyai Ageng Mohammad Besari. Sedangkan di bagian barat masjid terdapat makam agung, Kyai Ageng Mohammad Besari.

Di bagian utara masjid, dulunya digunakan sebagai pondok pesantren. Namun, bangunan yang ada saat ini merupakan bangunan baru.

Kunto menjelaskan, sudah sejak sekitar 1900 kegiatan pondok sudah mulai pudar. "Sekitar 1900 sudah mulai pudar, tidak ada lagi yang meneruskan. Ditambah lagi, pada saat itu masa penjajahan," imbuhnya.

Baca: Mengurai Jejak Islam di Wilayah Tapal Kuda Lewat Pondok Pesantren Tertua di Situbondo

Malam Jumat Kliwon

Masjid Jami' Tegalsari selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Ribuan warga tersebut, datang untuk mengikuti istighozah dan berziarah di makam Kyai Ageng Muhammad Besari.

"Biasanya ramai kalau pas malam Jumat Kliwon. Apalagi pas acara istighozah, bisa sampai ribuan," kata Ketua Yayasan Kyai Ageng Muhammad Besari, Kunto Pramono (58), Jumat (9/6/2017) siang.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved