Saudari Kembari Imam Subekti Sempat Mimpi Korban Pulang Ke Rumah
Sepeninggal Imam Subekti (25) duka yang amat sangat masih dirasakan oleh suadari kembarnya bernama Siti Solikhah. Wanita 25 tahun ini seakan tak rela
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Yoni Iskandar
Setelah, itu Polisi Polsek tarokan Polres Kediri mendatangi kediaman korban dan meminta perwakilan keluarga untuk ikut ke rumah sakit Bhayangkara. Saat itu yang ikut ke RS Bhanyangkara adalah kakak kandung tertua korban bernama Jamingan (47).
Pihak keluarga awalnya tidak tahu kalau korban tewas karena dibunuh. Pihkanya, sempat menanyakan ke resepsionis RS Bhanyakara adakah pasien kecelakaan bernama Imam Subekti.
Keluarga korban baru tahu kalau Imam sudah tak bernyawa setelah dijelaskan oleh pihak kepolisian dari Polsek Kota Polres Kediri. Dari indentias Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan jasad korban pihak keluarga yakin bahwa itu adalah jenazah Imam Subekti.
Tak hanya itu, sebelumnya, Siti sempat menghubungi handphone korban tapi tidak aktif. Selang lima hari semenjak kepergian korban dari rumah ia berupaya menelpon dan mengirim pesan singkat ke ponsel milik korban.
"Saya hubungi dia (korban) sore pada pada 26 Agustus. Saat saya telepon nggak aktif nomer ponselnya," ujar Siti.
Menurut Siti, menuntut agar seluruh tersangka yang mengeroyok korban hingga tewas itu dihukum seberat-beratnya. Pihaknya meminta aparat penegak hukum supaya para tersangka dihukum maksimal.
Sebab, kata Siti, perbuatan keji yang dilakukan oleh para tersangka terhadap korban merupakan tindakan yang tidak manusiawi. "Kalau bisa dihukum mati. Atau hukuman seumur hidup," jelasnya.
Jamingan menambakan meminta agar secepatnya hasil tes DNA dapat selesai. Pihaknya, ingin segera jasad korban untuk dimakamkan.
Segala kebutuhan pemakanan telah dipersiapan. Bahkan, pada saat korban pertama kali ditemukan liang lahat di makam desa setempat sudah digali. Selain itu, keranda jenazah juga sudah dipersiapkan.
Disamping itu, untuk memastikan dia bersama perangkat Dusun Jegres Desa tarokan Kecamatan Tarokan sempat menuju ke RS Bhayangkara. Namun jawaban dari dokter forensik menegaskan tidak memperbolehkan jenazah korban diambil sebelum hasil tes DNA di Jakarta selesai.
"Kami kesana lagi pada Jumat kemarin menemui dokkter forensik Bhayangkara untuk memastikan jasad korban.
Dikatakannya, semua keluarga besar tidak bisa bekerja sebelum bisa memakamkan jenazah korban. Pihaknya sampai saat ini fokus untuk menunggu pemulangan jenazah.
"Kami diminta pulang disuruh sabar. Kalau udah selesai pasti akan dikabari," imbuhnya. Tes DNA paling cepat satu pekan," pungkasnya. (Suryan/Mohammad Romadoni).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-kediri-korban-pengeroyokan-anak-punk_20170907_215311.jpg)