Duhh, Warung Kopi Remang-remang di Pandaan Jadi Tempat Prostitusi, 7 Terjaring, 2 Terjangkit HIV

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pasuruan terus melakukan razia tempat prostitusi di wilayah Kabupaten Pasuruan, Selasa (26/9/2017) di

surya/Galih Lintartika
7 PSK di warung remang-0remang digaruk 

 TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pasuruan terus melakukan razia tempat prostitusi di wilayah Kabupaten Pasuruan, Selasa (26/9/2017) dinihari.

Kali ini, Satpol PP merazia warung kopi remang-remang di wilayah Pandaan.

Dalam razianya, petugas berhasil mengamankan tujuh perempuan yang disinyalir sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK).

Tujuh PSK itu lantas diamankan ke Mako Satpol PP untuk menjalani pembinaan dan pendataan petugas.

Kepala Satpol PP Kabupaten Pasuruan Tri Yudha Sasongko mengatakan, tujuh PSK yang diamankan ini langsung diperiksa kesehatannya. Hasilnya, pun sangat mengejutkan.

"Dua diantaranya ternyata mengidap HIV AIDS," katanya kepada Surya.

Menurut Yudha, dua PSK itu lantas diperiksa kembali. Mereka mendapatkan perhatian khusus. Sebab, mereka langsung diserahkan ke Dinas Kesehatan untuk pembinaan lebih lanjut.

"Kalau yang lima kami serahkan ke Dinsos. Kalau yang terjangkit HIV AIDS akan ada karantina lebih lanjut," papar dia.

Dikatakan Yudha, pihaknya akan terus menertibkan warung remang-remang yang disinyalir dijadikan tempat prostitusi. Menurut dia, peran serta masyarakat sangat penting dalam hal penertiban ini.

"Bantu dan informasi kan ke kami kalau ada prostitusi di warung remang-remang seperti ini," ungkap dia.

Salah satu PSK, Mawar (bukan nama sebenarnya) mengakui sudah tiga tahun bekerja sebagai wanita penghibur di warung itu. Kata dia, pekerjaannya yang dilakukannya itu demi mencukupi kebutuhan anaknya.

"Saya sudah cerai dengan suami. Saya hidup sendiri bersama anak, dan saya bertanggung jawab atas kewajiban mencukupi apa yang diperlukan anak saya," aku dia.

Ia mengungkapkan, dalam semalam, pendapatan yang didapatkannya itu tak pasti. Saat ramai, ia mampu meraup untung Rp 200.000. Namun, saat sepi, ia terkadang pulang tanpa membawa untung.

"Anak saya di desa (Wonosobo, Jawa Tengah). Saya disini, ngekos. Sebenarnya, kalau ada pekerjaan lain, saya lebih baik mengambil pekerjaan lain saja," pungkasnya. (Surya/Galih Lintartika)

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved