Generasi Muda Malas Membaca, Begini Upaya Penulis Australia Dekatkan Sastra Pram Lebih Milenial
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia gaung namanya masih terdengar sampai sekarang. Sayang, generasi milenial kurang mengenalnya.
TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia kelahiran 1925 dan wafat 2006 ini gaung namanya masih terdengar sampai sekarang.
Tak hanya di Tanah Air, tapi hingga ke mancanegara membelah sekat-sekat budaya.
Namun, apakah Generasi Milenial Indonesia yang ‘bersahabat’ dengan gadget mengenal sosok Pramoedya, satu-satunya sastrawan Indonesia yang menjadi kandidat peraih Nobel Sastra itu?
Di pelataran Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM) digelar bincang-bincang yang mengupas Pramoedya beserta Tetralogi Buru, empat jilid novel yang tersohor hingga ke seluruh dunia, pada Senin (2/10/2017) malam yang liris.
(Inilah Pernyataan Lengkap Dosen Unair yang Menolak Pemberian Gelar Doktor HC untuk Muhaimin Iskandar)
Adalah Max Lane, pria kelahiran Australia 1951 yang membuat nama Pramoedya melambung tinggi dan dikenal khalayak pembaca di seluruh dunia.
Max Lane menerjemahkan Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.
Ikhwal bincang-bincang ini adalah membedah buku Max Lane yang berjudul “Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia”.
Selain Max Lane, juga hadir pemateri Yusri Fajar (sastrawan), Djoko Saryono (budayawan), dan moderator Ardi Wina Saputra.
“Saya menerjemahkan karena saya mencintai karyanya (Pramoedya). Membaca karyanya membuat saya merenungkan banyak hal. Hingga melahirkan buku ini (Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia),” kata Max Lane, memberi prolog.
(Google Doodle Ikut Rayakan Ulang Tahun Pramoedya Ananta Toer ke-92)
Pasca bincang-bincang usai, Harian Surya mengajak Max Lane ngobrol tentang pentingnya karya-karya Pramoedya bagi Generasi Milenial.
Menurutnya, dari Tetralogi Buru milik Pramoedya, pembaca bisa merenungkan tentang siapa saja yang kini disebut sebagai Orang Indonesia.
“Harapan saya buku-buku Pram agar dibaca oleh anak muda. Mereka harus memikirkan isinya, buka sekedar menikmati ceritanya (fiksi),” ucap Max Lane.
Menurut Max Lane, generasi muda saat ini sangat berjauhan dengan literasi. Tidak ada budaya membaca yang mewarnai aktivitas anak muda zaman sekarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/pramoedya-ananta-toer-dibedah-di-universitas-negeri-malang_20171003_131517.jpg)