Pendapatan Tak Seberapa, Ini Alasan Rasimun Tetap Bertahan Produksi Payung Mutho yang Mulai Langka
Rasimun menjelaskan, walau penghasilan dari berjualan Payung Mutho tidak seberapa, ia tidak akan beralih ke profesi lain. Apa alasannya?
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Alga W
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Zaman sekarang, masyarakat yang menggunakan Payung Kertas atau sering disebut Payung Mutho, bisa dibilang sangat jarang.
Mereka lebih memilih menggunakan payung-payung konvensional dengan berbagai macam alasan.
Jadi Pengrajin Payung Mutho yang Masih Bertahan di Kota Malang, Pendapatan Rasimun Hanya Segini
10 Foto Hot Artis India Ini Cantik dan Seksi Kan? Kalian Nggak Akan Percaya Lihat Masa Lalunya. . . https://t.co/BXnXGQ4AXB via @tribunjatim
— Tribun Jatim (@tribunjatim) October 19, 2017
FTV Pura-pura Sakit Demi Hukum Tunjukkan Pria Tidur Pakai Selang, Netter Tersindir: Mirip Papa
Namun di Kota Malang, masih ada seorang pria bernama Rasimun (93), yang sampai saat ini masih semangat memproduksi Payung Mutho.
"Ya karena senang," ujar Rasimun mengungkapkan alasannya masih memproduksi Payung Mutho.
Rasimun menjelaskan, walau penghasilan dari berjualan Payung Mutho tidak seberapa, ia tidak akan beralih ke profesi lain atau memproduksi payung konvensional.
Diadopsi Artis Usai Ditelantarkan Orangtuanya, Bayi Ini Dapat Surat Mengharukan dari Sang Bunda
"Saya juga bisa buat payung yang biasa itu, tapi tidak mau," tambah Rasimun.
Menurutnya, selain mempunyai nilai sejarah, Payung Mutho punya nilai seni yang tinggi.
Memang, proses pembuatan Payung Mutho termasuk melukis.
"Pada jaman kerajaan dulu, payungnya kan Payung Mutho," lanjutnya.
VIDEO: Icip-icip Janda Hot di Kedai Bakmie Janda di Surabaya yang Selalu Ramai Sejak Dibuka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/mbah-rasimun-saat-melukis-payung-mutho_20171019_152936.jpg)