Penyakit LSD Serang Sapi di Malang, DPKH Malang Imbau Peternak Vaksinasi Mandiri

DPKH) Kabupaten Malang mengingatkan peternak untuk mewaspadai penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD)

Tayang:
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Ahsan Faradisi
VAKSIN MANDIRI - Ilustrasi Sapi. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang mengingatkan peternak untuk mewaspadai penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD), terutama di wilayah perbatasan dengan lalu lintas ternak tinggi, Minggu, (3/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Tercatat sekitar 20 kasus LSD di Kabupaten Malang dan sudah sembuh. 
  • Penyebaran berisiko tinggi di daerah perbatasan dengan mobilitas ternak tinggi. 
  • Peternak diimbau melakukan vaksinasi mandiri setahun sekali.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Lu'luul Isnainiyah

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang mengingatkan peternak untuk mewaspadai penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD), terutama di wilayah perbatasan dengan lalu lintas ternak tinggi. 

Untuk mencegah penularan penyakti tersebut, Dinas Peteranakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang mengimbau peternak agar melakukan vaksinasi. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) DPKH Kabupaten Malang, Lusia Endah Sukesi mengatakan kasus LSD di Kabupaten Malang terlapor sebanyak 20 kasus. 

"LSD di Kabupaten Malang yang terlaporkan ada 20 an kasus, tapi itu sudah diobati dan kondisinya sudah sembuh," kata Kesi belum lama ini. 

Ia menyebutkan, kasus ini banyak dijumpai di daerah perbatasan dengan lalu lintas ternak yang cukup tinggi. Misalnya, Kecamatan Lawang yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. 

"Sebenarnya, dimana ada kumpul hewan di situlah ada risiko penularan penyakitnya. Sehingga yang awalnya sapi kelihatan sehat tapi biasanya itu sudah terinfeksi,"jelasnya. 

Baca juga: Pergi Cari Ikan Saat Hujan, Lansia di Malang Ditemukan Tewas Mengambang di Sumber Luluh

Peternak Diminta Vaksinasi Mandiri

Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lato-lato, Kesi mengimbau kepada peternak agar melakukan vaksinasi secara mandiri. 

Sebab, pemerintah tidak menyediakan vaksin gratis tidak seperti pada vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Dikatakannya, vaksin LSD harganya terjangkau dan untuk pemberian vaksin bisa dilakukan satu tahun sekali. Hal ini berbeda dengan vaksinasi PMK yang harus dilakukan enam bulan sekali. 

"Pemerintah tidak menyediakan vaksin LSD, mak kami imbau peternak untuk melakukan vaksinasi secra mandiri yang dilakukans etiap setahun sekali," bebernya. 

Imbauan ini disampaikan oleh DPKH setiap ada kesempatan sosialiasai ke peternak. 

Baca juga: Hasil Sidak Hewan Kurban di Pasar Dimoro Kota Blitar, Petugas Temukan 1 Sapi Terkena LSD

Harapannya, masyarakat utamanya peternak bisa berparsipasi mencegah penyakit yang ditularkan melalui vektor serangga. 

Sebagaimana diketahui, sapi yang terkena penyakit LSD ditandai dengan demam, penurunan nafsu makan, serta dari penampilannya terdapat benjolan-benjolan pada kulit sapi. 

Meskipun demikian, sapi yang terkena LSD masih aman untuk dikonsumsi sepanjang diolah dengan baik dan benar. Sebab, penyakit ini bukanlah penyakit zoonosis atau yang menular ke manusia. 

 "Sepanjang itu proses masaknya benar. Untuk sapi yang ada benjolannya itu cukup dibuang dan bisa diambil dagingnya saja," tukasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved