Penyakit LSD Serang Sapi di Malang, DPKH Malang Imbau Peternak Vaksinasi Mandiri
DPKH) Kabupaten Malang mengingatkan peternak untuk mewaspadai penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD)
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Samsul Arifin
Ringkasan Berita:
- Tercatat sekitar 20 kasus LSD di Kabupaten Malang dan sudah sembuh.
- Penyebaran berisiko tinggi di daerah perbatasan dengan mobilitas ternak tinggi.
- Peternak diimbau melakukan vaksinasi mandiri setahun sekali.
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Lu'luul Isnainiyah
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang mengingatkan peternak untuk mewaspadai penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD), terutama di wilayah perbatasan dengan lalu lintas ternak tinggi.
Untuk mencegah penularan penyakti tersebut, Dinas Peteranakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang mengimbau peternak agar melakukan vaksinasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) DPKH Kabupaten Malang, Lusia Endah Sukesi mengatakan kasus LSD di Kabupaten Malang terlapor sebanyak 20 kasus.
"LSD di Kabupaten Malang yang terlaporkan ada 20 an kasus, tapi itu sudah diobati dan kondisinya sudah sembuh," kata Kesi belum lama ini.
Ia menyebutkan, kasus ini banyak dijumpai di daerah perbatasan dengan lalu lintas ternak yang cukup tinggi. Misalnya, Kecamatan Lawang yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.
"Sebenarnya, dimana ada kumpul hewan di situlah ada risiko penularan penyakitnya. Sehingga yang awalnya sapi kelihatan sehat tapi biasanya itu sudah terinfeksi,"jelasnya.
Baca juga: Pergi Cari Ikan Saat Hujan, Lansia di Malang Ditemukan Tewas Mengambang di Sumber Luluh
Peternak Diminta Vaksinasi Mandiri
Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lato-lato, Kesi mengimbau kepada peternak agar melakukan vaksinasi secara mandiri.
Sebab, pemerintah tidak menyediakan vaksin gratis tidak seperti pada vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Dikatakannya, vaksin LSD harganya terjangkau dan untuk pemberian vaksin bisa dilakukan satu tahun sekali. Hal ini berbeda dengan vaksinasi PMK yang harus dilakukan enam bulan sekali.
"Pemerintah tidak menyediakan vaksin LSD, mak kami imbau peternak untuk melakukan vaksinasi secra mandiri yang dilakukans etiap setahun sekali," bebernya.
Imbauan ini disampaikan oleh DPKH setiap ada kesempatan sosialiasai ke peternak.
Baca juga: Hasil Sidak Hewan Kurban di Pasar Dimoro Kota Blitar, Petugas Temukan 1 Sapi Terkena LSD
Harapannya, masyarakat utamanya peternak bisa berparsipasi mencegah penyakit yang ditularkan melalui vektor serangga.
Sebagaimana diketahui, sapi yang terkena penyakit LSD ditandai dengan demam, penurunan nafsu makan, serta dari penampilannya terdapat benjolan-benjolan pada kulit sapi.
Meskipun demikian, sapi yang terkena LSD masih aman untuk dikonsumsi sepanjang diolah dengan baik dan benar. Sebab, penyakit ini bukanlah penyakit zoonosis atau yang menular ke manusia.
"Sepanjang itu proses masaknya benar. Untuk sapi yang ada benjolannya itu cukup dibuang dan bisa diambil dagingnya saja," tukasnya.
penyakit LSD
virus LSD
DPKH Kabupaten Malang
berita malang hari ini
Idul Adha 2026
TribunJatim.com
Tribun Jatim
jatim.tribunnews.com
| PPP Pasuruan Gelar Muscab X, Targetkan Kebangkitan dan Sapu Bersih Dapil |
|
|---|
| Aksi Respek Persebaya, Tunjukkan Sportivitas Saat PSBS Biak Terdegradasi |
|
|---|
| Ramalan Cuaca Jatim Senin 4 Mei 2026, Mayoritas Daerah Terik dan Berawan |
|
|---|
| Dispora dan Pramuka Trenggalek Kolaborasi Kembangkan Potensi Pemuda, Cetak Generasi Unggul |
|
|---|
| Sampai Kapan Puncak Suhu Panas? ini Penjelasan BMKG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Sapi-Simental-dengan-bobot-hampir-1-ton-yang-gagal-dicuri-milik-warga-Kelurahan-Jati.jpg)