Terkena Penyakit Aneh, Bocah di Tulungaggung ini Hanya Berbaring Selama 2 Tahun
Anak pertama pasangan Siyanto (46) alias Toto dan Nuri Sulistyowati (32) ini tidak bisa melakukan aktivitas fisik apapun.
Penulis: David Yohanes | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Aldrine Dhimas Yudistira (9) terbaring tak berdaya di ranjang.
Kakinya berbalut bidai, yang biasa dipakai untuk menyangga patah tulang. Sementara tubuhnya kurus seperti anak gizi buruk.
Anak pertama pasangan Siyanto (46) alias Toto dan Nuri Sulistyowati (32) ini tidak bisa melakukan aktivitas fisik apapun. Sesekali Aldrine berteriak minta minum kepada Nuri. Hiburannya untuk mengalahkan kejenuhan hanya sebuah telepon genggam.
Saat ditemui di rumahnya, RT1, RW 2 Desa/Kecamatan Kauman, Nuri berkisah, kondisi Aldrine sudah dua tahun lalu. Saat itu Aldrine bermain dengan seorang teman di rumah. Tiba-tiba Aldrine berteriak, “aduh!”
“Waktu itu kakinya bengkak, terus saya ke puskesmas dan dokter anak. Dokter anak menyerankan langsung ke rumah sakit, karena patah,” tutur Nuri.
Awalnya hanya kaki kiri Aldrine yang dinyatakan patah. Namun di kemudian hari, kaki kanannya juga retak. Kedua kakinya harus dioperasi dan dipasang platina.
Anak pertama dari dua bersaudara ini sempat menjalani perawatan di rumah. Suatu hari Aldrine minta untuk duduk, karena lelah terus berbaring. Nuri dan suaminya pun menuruti keinginan itu.
“Ternyata duduk platinanya malah bergeser, Aldrine harus operasi lagi. Saat itu dokter menyarankan agar dia tidak boleh duduk, jadi terus berbaring saja,” ucap Nuri.
Dua tahun Aldrine menghabiskan waktunya dengan berbaring. Anak malang ini sudah 15 kali masuk rumah sakit. Dokter menyatakan, Aldrine menderita tulang keropos dan kelenturan tulang.
Kini pergelangan tangannya juga membengkok. Aldrine mengaku tidak merasa sakit dengan kondisi tangannya itu. Sementara tulang dadanya juga menonjol.
“Kalau dokter di Kediri yang awal memeriksa bilang, Aldrine mengalami gizi buruk bawaan sejak lahir. Sehingga makanan yang dia makan tidak diserap oleh tubuh. Tulangnya jadi keropos dan lentur,” tambah Nuri.
Meski termasuk keluarga miskin, Aldrine belum mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Untuk pengobatan anaknya, Nuri mengikutikan program BPJS Kesehatan mandiri kelas 3. Setiap bulan Nuri membayar iuran Rp 25.000.
Pernah setahun lalu iurannya tidak dibayar. Nuri kena denda sebesar R 1.100.000. Jika tidak mambayar dalam waktu yang ditentukan, Aldrine akan menjadi pasien umum.
“Waktu itu dikasih batas waktu hingga jam 12 siang. Akhirnya ada kulkas saya jual untuk bayar iuran,” kenang Nuri.
Toto, ayah Aldrine bekerja sebagai kuli angkut pasir. Karena keterbatasan ekonomi, hanya Aldrine yang diikutikan BPJS Kesehatan. Sementara Nuri, Toto dan anak keduanya belum diikutkan BPJS Kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-tulungaggung-bocah-kenaa-penyakit-aneh_20171209_123843.jpg)