Polrestabes Surabaya Tak Hadiri Sidang Praperadilan Kasus Perawat RS National Hospital, Ada Apa?

Apabila pokok perkara sudah disidangkan, sesuai KUHAP secara otomatis praperadilan yang diajukan kliennya akan gugur.

Penulis: Anas Miftakhudin | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
Winda Irmawati saat memberikan keterangan di depan Ruang Tirta 1, Pengadilan Negeri Surabaya, Senin, (19/3/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sidang perdana gugatan praperadilan yang diajukan Zunaidi Abdillah, mantan perawat Rumah Sakit National Hospital yang diduga melakukan tindak asusila terhadap pasien, Widyanti batal digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (19/3/2018).

Gagalnya sidang praperadilan itu lantaran, Polrestabes Surabaya selaku termohon tidak mendatangi persidangan yang dijadwalkan pukul 10.00 WIB.

Ketidakhadiran itu menyulut kekecewaan M Soleh SH, selaku kuasa hukum ZA yang hadir sejak pukul 09.00 WIB.

"Saya sangat kecewa Polrestabes tidak hadir. Ini adalah akal-akalan polisi supaya sidang pokok perkaranya digelar, akhirnya sidang praperadilan akan gugur," tandas M Soleh.

Tak Hadiri Sidang Prapradilan Kasus Perawat RS National Hospital, Ini Jawaban Polrestabes Surabaya

Menurut Soleh demikian dipanggil, sidang praperadilan ini dikejar waktu. Apabila pokok perkara sudah disidangkan, sesuai KUHAP secara otomatis praperadilan yang diajukan kliennya akan gugur.

Meski demikian, ia tak gentar untuk tetap mengajukan gugatan ini meski peluang untuk bisa lanjut tipis.

Soleh berkeyakinan, penetapan tersangka itu prematur dan tidak memenuhi dua alat bukti yang cukup, sehingga langkah yang dilakukan termohon adalah tidak datangi praperadilan.

"Ini menunjukkan jika memang polisi tidak percaya diri. Cuma takut kalah akhirnya menunda sidang praperadilan," tegasnya.

Inilah Destinasi Wisata Baru di Lamongan, Bukit Kapur Disulap Jadi Gunung Mas

Gugatan yang diajukan ZA melalui Soleh adalah untuk menganulir status tersangka dan juga memulihkan nama baik kliennya di hadapan publik. Pasalnya, langkah yang dilakukan kliennya adalah menolong.

Dalam materi gugatan praperadilan diuraikan kronologis kasus ini versi pemohon.

Pada 23 Januari 2018 sekitar pukul 11.30 WIB - 12.00 WIB setelah operasi penyakit, pasien Widyanti, ZA dituduh melakukan tindak asusila terhadap pasien dengan memegang payudara pasien Widyanti. ZA juga dituding meremas-remas payudara dan membuat mainan puting pasien.

Sementara ZA menemui korban yang diantar Dyah dan Amalia pada 24 Januari 2018 pukul 12.00 WIB. Artinya ada durasi waktu 24 jam setelah kejadian.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved