Tim Ahli Kemendikbud Kaji Cagar Budaya Nasional di Banyuwangi

Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) berkunjung ke Banyuwangi. Mereka melakukan kajian terhadap sejumlah peninggalan cagar budaya yang ada di Banyuw

Tim Ahli Kemendikbud Kaji Cagar Budaya Nasional di Banyuwangi
Surya/Haorrahman
Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) berkunjung ke Banyuwangi. Mereka mengunjungi Inggrisan yang dibangun Belanda pada abad 17,menjadi salah satu bangunan yang diusulkan menjadi cagar budaya nasional. 

Peninggalan cagar budaya, ada yang bersifat tangible (ragawi) dan intangible (non ragawi). Tangible seperti bangunan, benda, situs. Intangible di antaranya kesenian tradisional, tradisi rakyat.

Soeroso lalu menceritakan kesannya saat mengunjungi sejumlah situs di Banyuwangi yang merupakan peninggalan lama. Saat mengunjungi Inggrisan yang dibangun Belanda pada abad 17, rombongan ini langsung dibuat takjub. Karena bangunannya masih berdiri kokoh meski sudah berumur ratusan tahun.

“Ini menakjubkan. Kalau melihat kondisinya yang masih sebagus ini, saya kira ini bisa diusulkan menjadi cagar budaya nasional tahun 2019 nanti. Mudah-mudahan lolos,” tambahnya.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menyambut baik kedatangan tim ahli tersebut yang akan mengkaji potensi cagar budaya Banyuwangi.

“Seiring berjalannya waktu, banyak kasus cagar budaya yang mulai terpinggirkan bahkan hilang. Hal ini, disebabkan karena pembangunan yang kurang memperhatikan nilai-nilai sejarah dan budaya. Maka, dengan hadirnya tim cagar budaya ini, akan membawa manfaat besar terhadap pelestarian cagar budaya yang kami miliki,” kata Abdullah Azwar Anas kepada TribunJatim .

Abdullah Azwar Anas menambahkan, untuk melestarikan kebudayan lokal, Banyuwangi telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya, memberikan sentuhan kebudayaan lokal pada setiap bangunan, termasuk hotel.

Ditanya Andhika Pratama Soal Isu Makan Teman, Syahrini Menjawab: Oh, Ngaku-ngaku Jadi Teman Kali

“Ini kami wajibkan agar setiap bangunan bisa mendokumentasikan kekhasan lokal Banyuwangi. Setiap bangunan baru, tidak akan kami keluarkan IMB nya jika dalam arsitekturnya tidak ada unsur kebudayaan lokal. Maka, semua hotel di Banyuwangi sekarang sudah mengaplikasikan ornamen lokal seperti arsitektur yang harus khas lokal, mengaplikasin motif klasik batik di ornamen hotel,” ujar Abdullah Azwar Anas.

Tak hanya itu, Banyuwangi juga konsisten melestarikan budaya dan kearifan lokal yang tumbuh dalam masyarakat. Dalam deretan Banyuwangi Festival yang digelar sepanjang tahun, sebagian di antaranya adalah event budaya.

“Banyuwangi punya tradisi kebo-keboan, barong ider bumi, seblang, hingga tari Gandrung yang konsisten kami angkat dalam festival. Karena bagi kami, Banyuwangi boleh maju dan terus berkembang, tapi budaya Banyuwangi tidak boleh terpinggirkan,” pungkas Anas. (haorrahman/TribunJatim)

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved