Nasib Penyuluh Agama di Madiun, 10 Tahun Mengabdi Sebulan Cuma Digaji Rp 500 ribu
Seperti yang dijalani oleh Supriyadi (33) warga Desa Sambirejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Pria yang akrab disapa Supri ini merupakan satu
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Nasib para penyuluh agama sebagai ujung tombak Kementrian Agama masih sangat memprihatinkan.
Padahal mereka mempunyai tugas yang tidak ringan, untuk meningkatkan iman dan memperbaiki akhlaq masyarakat.
Para penyuluh agama ini bertugas untuk memberikan penyuluhan tentang kerukunan, berantas buta Alquran, radikalisme, pengentasan atau pencegahan narkoba, dan penyuluh produk halal. Dengan tanggungjawab seperti itu, mereka hanya diupah Rp 500 ribu per bulan.
Seperti yang dijalani oleh Supriyadi (33) warga Desa Sambirejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.
Pria yang akrab disapa Supri ini merupakan satu di antara ratusan penyuluh agama Islam di Kabupaten Madiun.
Ayah satu anak ini mengaku sudah sepuluh tahun bekerja sebagai penyuluh agama untuk kategorisasi bidang zakar dan berantas buta Al Quran. Sarjana pendidikan Islam lulusan STAIN Magetan ini hanya mendapat upah Rp 500 ribu per bulan.
• Artis VV hingga NR Diendorse Kosmetik Oplosan Asal Kediri, Tarifnya hingga Rp 15 Juta Per Minggu
Uang tersebut ia gunakan untuk membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari, bersama istrinya Nurul Hidayah (31) dan putrinya Yang masih balita, Nihayatul Khusna (3,5).
Meski hanya bergaji Rp 500 ribu per bulan, namun Supri menjalani pekerjaanya dengan iklhas. Apalagi, ia mengalami gangguan penglihatan, sehingga tidak banyak pilihan pekerjaan yang dapat ia jalani.
Supri mengaku mengalami gangguan penglihatan sejak kecil. Jarak pandangnya kurang lebih hanya sekitar lima meter, sehingga tak jarang ia kerap jatuh tersungkur atau menabrak saat di perjalanan ke lokasi tempat ia melakukan penyuluhan.
"Ya sering (jatuh), pernag waktu itu hujan-hujan, saya masuk ke parit sawah," katanya saat ditemui di acara Jambore Penyuluh Agama Islam di Kantor Kementrian Agama Kabupaten Madiun, Jalan Panglima Sudirman no 12, Kronggahan, Mejayan, Rabu (5/12/2018) siang.
Supri mengatakan, di Kecamatan Geger ia bersama tujuh rekannya sesama penyuluh agama Islam membawahi 19 desa. Sedangkan dirinya, setiap hari secara bergantian harus keliling memberikan penyuluhan terhadap 17 majelis binaan .
"Setiap hari, mulai Senin hingga Akhad, mulai anak-anak sampai orangtua. Membina majelis binaan, adroh, sholatawan, tilawah, jamaah yasin, kadang juga ngasih ceramah," kata Supri kepada TribunJatim.com.
Terkadang selepas mengisi majelis taklim di masjid atau di acara pengajian yang diselenggarakan masyarakat, ia mendapat uang, sekadar untuk mengganti uang bensin.
"Rejeki tak terduga,sepulang dari majelis taklim ada yang memberi, ya diterima," katanya kepada TribunJatim.com.
Meski hanya diberi upah Rp 500 ribu, ia mengaku senang menjalani profesinya. Namun, ia juga berharap kesejahteraan apra penyuluh agama hendaknya diperhatikan.
"Harapnnya kesejahteran diperhatikan, setara PNS walaupun tidak sepenuhnya, yang penting cukup untuk memnuhi kebutuhan," katanya.
• Polda Jatim Bakal Panggil 7 Artis yang Terlibat Endorse Kosmetik Illegal, Artis VV Juga Termasuk
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-madiun-penyuluh-agama-di-kabupaten-madiun-dibayar-rp-500-ribu.jpg)