Bermodal Rp 25 Ribu dan Ketekunan, Pria di Kota Batu Ini Sukses Budidaya Bunga Anggrek

Sejak tahun 2007 Dedek Setia Santoso warga Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sudah mulai menekuni budidaya tanaman anggrek.

Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Yoni Iskandar
sany eka/surya
Dedek Setia Santoso saat menunjukkan tanaman anggrek yang ia budidaya sejak 2007. 

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Sejak tahun 2007 Dedek Setia Santoso warga Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sudah mulai menekuni budidaya tanaman anggrek. Bahkan awalnya ia hanya bermodalkan Rp 25 ribu saja.

Saat ini sudah ada ribuan bibit anggrek yang berhasil ia budidaya. Tidak hanya itu, ia juga sempat berseteru dengan orangtuanya karena tidak disetujui menjadi petani.

Dengan tekad yang kuat ia tetap menjalani hobinya.

"Orang dulu kan pikirnya buat apa jadi petani, banyak ruginya. Tapi justru saya ingin buktikan kalau seorang petani pun bisa sukses," katanya, Rabu (19/12/2018).

Karena di keluarganya tidak ada yang berlatarbelakang menjadi petani ia membaca-baca buku bagaimana membudidayakan anggrek. Setiap toko buku ia datangi satu persatu, ia baca buku ia hafalkan dan ia terapkan di rumah.

Selama satu bulan dari ilmu membaca buku itu ia mulai berkembang. Namun awal-awal hasilnya tidak sebagus yang ia harapkan, beberapa kali ia mengalami kegagalan berkali-kali.

"Tapi saya nggak mau berhenti gitu saja. Kan proses belajar juga ada waktunya. Puluhan kali pernah gagal kok. Begitu ada yang berhasil saya budidaya, saya jual saya pasarkan," imbuhnya kepada TribunJatim.com.

Sedikit demi sedikit anggrek yang berhasil ia tanam ia titipkan di temannya di tempat wisata seperti Pasar Selecta, dan ada juga yang dijual melalui online. Pria kelahiran 21 Juni 1978 ini menambahkan ia mulai mengikuti lomba dari tingkat lokal hingga nasional dan internasional terkait anggrek.

Pasca Jalan Gubeng Surabaya Ambles, KCP BNI Gubeng Pindahkan Sementara Aktivitas ke Dua Tempat

Jalan Gubeng Surabaya Ambles, Ahli Geoteknologi: Mestinya Dipasang Namanya Instrumen Geoteknik

Tol Pasuruan - Probolinggo Akan Difungsionalkan Saat Libur Natal dan Tahun Baru

Beberapa juara ia sabet, seperti juara Tingkat Nasional yang diadakan Kementerian Pertanian 2016 dan terbaru bulan Februari 2018 anggrek persilangannya mendapatkan predikat First Class Certificate (FCC) dari Singapura dan juara internasional di Singapore Garden Festival bulan April lalu di tempat yang sama.

"Dari situ banyak yang menanyakan dan belajar bagaimana budidaya anggrek, baik anggrek dalam negeri maupun anggrek impor," ujarnya kepada TribunJatim.com.

Anggrek yang ia jual harganya bisa mencapai Rp 10 ribu hingga Rp 40 juta untuk anggrek hasil silanggannya yang telah berbunga untuk jenis dendrobium. Saat ini di luas lahan yang sekitar 2500 meter persegi di rumahnya bisa menghasilkan 9000 bibit per harinya.

"Tapi itupun masih belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. Oleh karena itu saya ajak masyarakat dan mahasiswa untuk budidaya anggrek. Sekarang ada 25 orang binaan yang tergabung dalam kelompok tani anggrek Sandriana," ujarnya.

Dari mitra atau kelompok binaan itu, setalah anggrek berusia tiga bulan ia beli dengan harga Rp 4000 per bibitnya. Rata-rata lahan yang digunakan oleh 25 binaan 1-2 meter persegi. Dengan hasil panen setiap meternya mencapai 200 bibit anggrek.

"Saya mulai juga dari awal sekali, pernah gagal. Apa salahnya berbagi kepada yang mau belajar," pungkasnya. (Sun/TribunJatim.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved