Info sehat terbaru

INFO SEHAT TERBARU - Resiko Tuli Kongenital Dapat Terjadi pada 5.000 Bayi di Indonesia, Yuk Deteksi!

Tahukah kita, 466 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran? 34 juta gangguan pendengaran diantaranya adalah anak-anak.

INFO SEHAT TERBARU - Resiko Tuli Kongenital Dapat Terjadi pada 5.000 Bayi di Indonesia, Yuk Deteksi!
Owlet Blog
Ilustrasi 

"Jadi TBC itu ada obat yang disuntik, obat malaria juga ada yang disuntik sehingga saraf pendengarannya menurun," kata dr. Hably.

Selanjutnya riwayat kelahiran seperti prematur, berat badan lahir rendah, terdapat kuning pada kadar 25 lebih dari 25, dan pada waktu kelahiran mengalami sesak napas atau tidak menangis.

"Ketika lahir anaknya diam, tidak langsung nangis, itu terjadi kadar oksigennya berkurang di tubuh dia,"

INFO SEHAT HARI INI - 5 Penyebab Produksi ASI Menurun, Posisi Bayi hingga Waktu Menyusui

Faktor lainnya adalah kelainan anatomi telinga dapat disertai kelainan kraniofasial, hiperbilirubinemia, meningitis bakteria, apgar score, bayi di NICU, dan sindrom yang berhubungan dengan tuli sensorineural atau konduktif.

Terdapat cara sederhana deteksi kemungkinan tuli kongenital pada bayi usia 0 sampai 1 bulan yaitu refleks moro, mengejapkan mata, mengerutkan wajah, berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat, bernapas lebih cepat, dan ritme jantung bertambah cepat.

"Jadi saat mendengar suara kencang, pintu tertutup, atau tepuk tangan dari belakang Si Kecil harusnya ada refleks kagetnya," kata dr. Hably.

Kapan kita perlu curiga Si Kecil mengalami tuli kongenital?

- Usia 12 bulan, bayi belum dapat mengoceh (babbling) atau meniru bunyi

- Usia 18 bulan, tidak dapat menyebut satu kata yang mempunyai arti

- Usia 24 bulan perbendaharaan kata kurang dari 10 kata

Halaman
1234
Editor: Candra Setiawan
Sumber: Nakita
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved