Kunjungi Kampung Genteng Candirejo, 3 Pejabat Korut Ini Malah Tertarik Adopsi Pengolahan Air Limbah
Kunjungi Kampung Genteng Candirejo, 3 Pejabat Korut Ini Malah Tertarik Adopsi Pengolahan Air Limbah.
Penulis: Delya Octovie | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Wilayah RT 02 RW 08 Genteng Candirejo yang dikenal sebagai kampung olahan herbal ini kembali mendapat lima tamu istimewa.
Di antaranya, terdapat tiga pejabat dari Korea Utara, yakni Ri Song dari Korea Cities Federation, Park Chang Hun Wakil Ketua Komite Masyarakat Kota Pyongsong, Pyongan Utara, dan Kim Jong Ho Direktur Departemen Luar Negeri dan Komite Masyarakat Pyongan Utara.
• Tipu Tiga Perempuan Sosialita dengan Liburan ke Inggris dan Korea, Daniel Eka Bawa Lari Uang 80 Juta
• Kampung Bagong Ginayan di Ngagel, Warga Sediakan Instalasi Pengolahan Air Limbah Buat Siram Tanaman
• Dorong Pengembangan Ekonomi Mikro di Desa, Arumi Bachsin: Kampung Kreasi Harus Eksis Tiap Tahun
Mereka tak sendirian, melainkan ditemani oleh kedua anggota UCLG ASPAC, yakni Sekretaris Jenderal Bernadia Irawati Tjandradewi dan David A. Sagita.
Syahri, Fasilitator Lingkungan dan Ketua RT 02 RW 08 Genteng Candirejo, mengatakan tujuan awal kunjungan para pejabat Korea Utara ini adalah untuk mempelajari UKM digital serta olahan herbal.
Namun, begitu sampai di kampung, Syahri menyebut ketiga pejabat justru tertarik dengan program pengolahan air limbah yang dilakukan di bawah tanah, tepat di dekat pintu masuk kampung.
"IPAL kami ini air bakunya berasal dari 50 rumah, lalu kami tambahkan lele sebagai fermentasi. Lele ini sebagai penanda manakala air limbah masyarakat kandungan kimianya terlalu tinggi, mereka mati," tuturnya, Sabtu (4/5/2019).
Hasil air tersebut nantinya akan dibuat untuk menyiram tanaman, dijadikan air kolam lele, mencuci motor, dan lain-lain.
Park Chang Hun pun memberikan pujiannya langsung kepada Syahri.
Ia mengatakan, sebagai seorang pemimpin, Syahri telah melakukan pekerjaan yang baik.
"You did a really good job," pujinya.
Menurut Mahardika F. Rois, Ketua Karang Taruna Genteng Candirejo yang juga dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menyebut selama kunjungan, para pejabat menyatakan keinginannya untuk mengadaptasi apa yang sudah dikerjakan oleh warga Genteng Candirejo.
Sistem pemberdayaan masyarakat Korea Utara yang menganut top-down, alias seluruh perencanaan berawal dari pemerintah, sangat berbeda dengan di Surabaya yang bottom-up.
Sehingga, bila pemerintah lepas tangan, program seringkali terhenti.
Sedangkan program yang berawal dari masyarakat seperti di Surabaya, disebut-sebut bisa memiliki umur yang lebih panjang.
"Maka dari itu, mereka ingin mengadopsi, bahkan menduplikasi teknik-teknik seperti aquaponik dan hidroponik," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/kunjungi-kampung-herbal.jpg)