Berkah Kemarau, Para Pengarajin Bata merah di Lamongan Panen Pesanan, Naik 100 Persen

Panasnya matahari membawa berkah yang luar biasa bagi para pengrajin bata yang ada di Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung Lamongan Jawa Timur.

Berkah Kemarau, Para Pengarajin Bata merah di Lamongan Panen Pesanan, Naik 100 Persen
surya/Hanif Manshuri
Aktivitas Masturi bersama istrinya memproduksi batu bata yang mendapat berkah di musim kemarau 

 TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Musim kemarau ini membawa berkah tersendiri pengerajin bata merah. Bahkan produksi para pengrajin hingga 100 persen jika dibandingkan dengan hari biasa atau sebelum musiam kemarau.

Panasnya matahari membawa berkah yang luar biasa bagi para pengrajin batu bata yang ada di Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung Lamongan Jawa Timur.

Jika pada musim penghujan para pengrajin ini membutuhkan waktu 1 minggu lebih, maka di musim kemarau mereka hanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 hari untuk proses pengeringan batu bata.

"Alhamdulillah, kemarau tahun ini produksi kita semakin meningkat," kata seorang pengrajin bata merah dari Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung, Masturi, Selasa (4/8/2019).

Kalau biasanya butuh 1 minggu lebih untuk mengeringkan batu batu, musin kemarau hanya butuh waktu 3 - 4 hari.
Cepatnya proses pengeringan ini, kata Masturi, membuat proses pembuatan batu bata yang hanya ia lakukan bersama istrinya mengalami kenaikan hingga 100 persen.

Dalam sehari, ia bersama istrinya bisa memproduksi setidaknya mencapai sebanyak 1000 hingga 1500 buah bata.

"Bata merah yang sudah jadi ini kemudian diambil oleh para tengkulak seharga Rp 500 perbiji.

Jenguk Bayi yang Dibuang, Bupati Trenggalek Mas Ipin Jamin Hak Kependudukan Bayi

Cinta Laura Kiehl Tampil dalam Kostum Hudoq di JFC-18

Pernah Mengenyam Pendidikan di Pesantren, Kini Hidup Peserta Take Me Out Indonesia Ini Berubah

Meski hanya seharga Rp 500, Masturi bersyukur, karena harga tersebut sudah ideal dan sesuai dengan jerih payahnya saat memproses tanah liat menjadi bata siap pakai tersebut.

"Banyak pemborong dan tukang bangunan yang menyukai produk kami," ungkap Masturi kepada Tribunjatim.com.

Kualitas batu bata produksi Tikung berbeda kualiatas dengan batu bata lainnya, bata Tikung lebih baik karena kualitas tanahnya.

Dari usahanya menggeluti tanah liat untuk menghasilkan batu bata ini, Masturi mengaku bisa meraup penghasilan dan menghidupi keluarganya. Omset Masturi perbulan bisa mencapai Rp. 4 juta hingga Rp 5 juta.

"Alhamdulillah saya mencukupi kebutahan keluarga, termasuk menyekolahkan anak-anak," katanyakepada Tribunjatim.com.

Pengrajin bata di Tikung tidak hanya dirinya. Masih ada warga lain yang juga berprofesi yang sama dengan dirinya.
Hampir semua produsen bata merasakan berkah sama di musim kemarau.

Dibarengi dengan jumlah pemohon yang meningkat, seiring dengan berjalannya proyek pemerintah.
Juga banyak masyarakat umum, karena musim kemarau identik dengan masuknya pembangunan, baik oleh swasta maupun pemerintah.(Hanif Manshuri/Tribunjatim.com)

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved