Merajut Kebersamaan dan Kerukunan Melalui Pincuk Tumpeng Sewu Banyuwangi

Tradisi Tumpeng Sewu masyarakat Suku Using, Desa Kemiren, Banyuwangi. Kearifan lokal masyarakat yang dipercaya mampu menangkal dampak negatif.

Merajut Kebersamaan dan Kerukunan Melalui Pincuk Tumpeng Sewu Banyuwangi
SURYA/HAORRAHMAN
Tradisi Tumpeng Sewu masyarakat Suku Using, Desa Kemiren, Banyuwangi. Kearifan lokal masyarakat yang dipercaya mampu menangkal dampak negatif, Minggu (4/8/2019) malam. 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Era digital seperti saat ini membawa dampak negatif berupa disrupsi informasi dan bertebarannya hoaks, yang mengganggu kerukunan.

Karena itu, memperkuat kerukunan melalui kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat, dipercaya mampu menangkal dampak negatif tersebut.

Seperti dalam tradisi Tumpeng Sewu yang dimiliki masyarakat Suku Using, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Tumpeng Sewu digelar tiap memasuki bulan Dzulhijjah, atau yang biasa disebut dengan bulan haji.

Layaknya e-KTP, Banyuwangi Rilis Kartu Ternak Elektronik Jaminan Layanan Kesehatan Hewan

Tahun ini, Tumpeng Sewu bertepatan pada, Minggu (4/8/2019) malam.

Lewat Tumpeng Sewu ini, masyarakat bertemu, berkumpul, dan bersilaturahmi.

Tidak hanya warga Kemiren, masyarakat dari berbagai desa di Banyuwangi turut hadir untuk merasakan nikmatnya Tumpeng Sewu dengan sajian utama pecel pitik itu.

"Semua warga, termasuk anak-anak muda berkumpul, bergotong royong mengemas acara ini, sehingga warga menjadi guyub rukun. Ini menjadi modal penting untuk terus membangun daerah, apalagi di tengah disrupsi informasi dan banyaknya hoaks seperti saat ini,"  kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Meriahnya Banyuwangi Ethno Carnival Top 10 Wonderful Event, Ada 120 Kostum Megah Era Blambangan

Pantai Cacalan Banyuwangi Jadi Kawasan Kuliner Ikan Bakar dan Minuman Segar Jus Jambe Kaya Khasiat

Dengan merawat kearifan lokal yang ada di masyarakat seperti ini, menurut Abdullah Azwar Anas mampu memupuk persatuan dan persaudaraan, sehingga tak mudah terpengaruh oleh banyaknya disrupsi informasi yang bertebaran di dunia digital.

Hingga saat ini, sangat jarang terjadi gejolak di masyarakat Kemiren yang dikenal sebagai Suku Using-suku asli Banyuwangi.

Halaman
1234
Penulis: Haorrahman
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved