Laundry di Banyuwangi Babak Belur Dihajar Kenaikan Harga LPG-Plastik: Lebih Berat dari Masa Pandemi
Usaha laundry di Kabupaten Banyuwangi babak belur dihajar kenaikan harga kebutuhan kerja. Setelah parfum dan plastik, kini LPG nonsubsidi
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Usaha laundry di Banyuwangi terdampak kenaikan biaya produksi, mulai dari metanol, plastik, hingga elpiji nonsubsidi.
- Pelaku usaha sudah menaikkan tarif dari Rp7 ribu menjadi Rp8 ribu per kg, namun kini menahan kenaikan lanjutan.
- Kenaikan harga bahan baku signifikan, seperti metanol yang naik dua kali lipat dari Rp400 ribu menjadi Rp800 ribu per jeriken.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin
TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Usaha laundry di Kabupaten Banyuwangi babak belur dihajar kenaikan harga kebutuhan kerja. Setelah parfum dan plastik, kini tabung gas elpiji (LPG) nonsubsidi turut naik harganya.
Saat harga metanol untuk bahan baku parfum dan plastik naik signifikan, sebagian besar pengusaha laundry memilih untuk menaikkan tarif. Kini saat LPG nonsubsidi ikut naik, mereka tak berani kembali melakukan hal yang sama agar pelanggan tak kabur.
Wulan Vita, pemilik usaha Qta Laundry, mengatakan, tarif laundry regular telah naik dari Rp 7 ribu per kg menjadi Rp 8 ribu per kg kurang dari sebulan terakhir.
"Menaikkan harga sudah tidak bisa dihindarikan," kata Wulan, Selasa (21/4/2026).
Setelah itu, usaha binatu masih harus kembali digempur oleh kenaikan gas elpiji non subsidi. Seperti diketahui, usaha binatu merupakan salah satu sektor yang dilarang untuk menggunakan elpiji melon atau subsidi.
Karenanya, kenaikan harga LPG nonsubsidi menjadi tambahan beban bagi pengusaha laundry.
"LPG dipakai untuk pengeringan dan setrika. Kebutuhannya lumayan. Untuk elpiji 12 kg itu habis untuk kebutuhan 2-3 hari, atau setara 200 kg cucian," ujar Wulan.
Baca juga: Cara Hemat Gas yang Benar saat Harga LPG Naik, Api Bagus Warnanya Biru
Meski demikian, para pelaku usaha laundry di Banyuwangi masih menahan untuk tak menaikkan tarif. Tarif yang sudah terlanjur diubah sebelum sebulan membuat mereka khawatir kehilangan pelanggan apabila harga yang dipatok kembali dinaikkan.
"Untuk saat ini belum ada rencana menaikkan harga lagi karena mempertimbangkan kondisi ekonomi konsumen. Jika harga dinaikkan terus dalam waktu berdekatan, dikhawatirkan pelanggan akan semakin terbebani," imbuh dia.
Joko Supaat, pemilik usaha Bening Laundry, menambahkan, kenaikan harga kebutuhan produksi laundry terbilang tinggi. Metanol untuk campuran parfum pakaian harganya naik dua kali lipat.
"Biasanya 400 ribu per jeriken. Sekarang 800 ribu," sambungnya.
Kenaikan yang juga tinggi juga terjadi pada komponen plastik. Komponen itu juga naik dua kali lipat sejak ekskalasi di Timur Tengah terjadi.
Baca juga: Harga LPG Nonsubsidi Naik, Pengusaha di Sidoarjo Mulai Lirik LNG
Akibat kenaikan harga plastik, para pelaku usaha mengurangi penggunaannya. Kantong plastik besar yang biasanya digunakan untuk membawa pakaian laundry kini ditiadakan. Pelanggan diminta untuk membawa kantong besar sendiri dari rumah.
| Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Terbaru di Tiap Provinsi, Apa Penyebab Kenaikannya? |
|
|---|
| Harga LPG Nonsubsidi Naik, Pengusaha di Sidoarjo Mulai Lirik LNG |
|
|---|
| LPG Nonsubsidi Tembus Rp228 Ribu, Pengusaha Resto di Bondowoso Ancang-ancang Naikkan Harga |
|
|---|
| PDI Perjuangan Jatim Ingatkan Kenaikan LPG dan BBM Bisa Picu Harga Sektor Lain |
|
|---|
| LPG Nonsubsidi Tembus Rp228.000, Pengusaha Kuliner di Tuban Lakukan Efisiensi Operasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Pegawai-salah-satu-tempat-laundry-di-Kabupaten-Banyuwangi-menyusun-pakaian-milik-pelanggan.jpg)