Jadi Pemeran Utama di Pementasan Balet The Red Shoes: BerLatih Lebih Intens, Banyak Gerakan Baru
Tujuh bulan, Premiere School of Ballet di Surabaya ini telah mempersiapkan pementasan yang diadaptasi dari cerita The Red Shoes, karya Hans Christian
Penulis: Hefty Suud | Editor: Yoni Iskandar
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hefty's Suud
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tujuh bulan, Premiere School of Ballet di Surabaya ini telah mempersiapkan pementasan yang diadaptasi dari cerita The Red Shoes, karya Hans Christian Andersen.
Besok, Kamis (5/9/2019), 100 penari Premiere School of Ballet akan mementaskannya di Ciputra Hall Performing Arts Centre.
Dalam pementasan tersebut, Melisa Sugianto dan Michael Wiradinata adalah tokoh centralnya. Melisa berperan sebagai Sherry dan Michael berperan sebagai Kevin.
Mengaku sudah belajar balet sejak TK, Michael mengatakan, pementasannya kali ini ada banyak gerakan baru. Ia jadi serasa belajar kembali.
"Di pementasan ini kayak kita melakukan gerakan yang belum pernah kita lakukan sebelumnya gitu. Macam liftingnya banyak, jadi harus belajar lagi," ujar Michael.
• Latihan Tujuh Bulan, Premiere School of Ballet Siapkan Pertunjukan The Red Shoes
• Servis Komplit Bonus 4 Busi, Hanya Rp 300.000, Murah, Cek di Tempat ini
• Ramai Anjing Bima Aryo Serang ART hingga Tewas, Ini 4 Kasus Serupa yang Pernah Terjadi!
Dalam pementasan tersebut, ada adegan, Kevin harus melepaskan sepatu merah yang dipakai Sherry. Menurut Michael, bagian ini juga menjadi salah satu kesulitannya.
"Awalnya sama dia cuma dicongkel aja melepasnya. Karena dia nggak pernah tau sepatu balet perempuan kan, jadi mau melepasnya kayak susah gitu," imbuh Melisa menjelaskan.
Bagi melisa sendiri, gerakan yang paling sulit dalam pementasan tersebut adalah pivot en pointe atau pivot on point.
"Gerakan itu harus berputar tapi juga harus stay, itu susah. Nah setelah gerakan itu, lanjutkan ke gerakan selanjutnya juga susah, kalau saya sama Michael nggak balance bisa jatuh," papar Melisa.
Untuk bisa melakukan pivot on point dengan baik, Melisa mengaku perlu waktu dua minggu.
"Tapi selama dua minggu itu kadang gagal, kadang berhasil. Tapi karena kami sering coba-coba sendiri, semakin hari, keberhasilannya semakin tinggi," ujar Melisa.
Sylvi Panggawean, artistic director
Premiere School of Ballet pun mengatakan pivot on point memang yang paling sulit dilakukan dalam pementasan tersebut. Kuncinya, keseimbangan dari dua orang yang melakukannya.
"Itu ada pada adegan Sherry diberi hadiah sirkam oleh kekasihnya, Kevin," tukas Sylvi.