Breaking News:

Founder Kampoeng Dolanan, Cak Mus: Belajar Etika dari Dolanan Tradisional

Kampoeng Dolanan itu menjadi pembicara dalam koferensi TEDxJalanTunjungan yang berlangsung di Amphiteater Q Building Universitas Petra, Surabaya

hefty Suud/Tribunjatim.com
Penampilan komunitas bermain dari kampung Jambangan yang menamai dirinya Cortraj Jambangan dalam TEDxJalanTunjungan yang berlangsung di Amphiteater Q Building Universitas Petra, Surabaya, Sabtu (7/9/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hefty's Suud

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Mustofa Sam, Founder Kampoeng Dolanan itu menjadi salah satu pembicara dalam koferensi TEDxJalanTunjungan yang berlangsung di Amphiteater Q Building Universitas Petra, Surabaya, Sabtu (7/9/2019).

Dalam konferensi bertema Dedicated itu, pria yang akrab disapa Cak Mus membuka presentasinya dengan menyayangkan terlindasnya dolanan tradisional dengan teknologi.

"Bukan dolanan atau permainannya yang saya sayangkan. Tapi ada etika bermasyarakat yang tampak ya juga ikut luntur dari jarangnya anak-anak memainkan dolanan tradisional," ujar Cak Mus.

Saat anak-anak harus mengetok rumah temannya yang satu dan yang lain dulu untuk mengajak bermain, disitulah anak-anak belajar etika berbicara pada orangtua.

"Dulu saya panggil teman saya untuk main, kadang yang keluar ibunya dulu. Saya bilang ke ibu teman saya, nangndi B bulek, kok gak metu? Budek ta?" cerita Cak Mus.

Angkat Tema Dedicated, TEDxJalanTunjungan Ajak Berbisnis Tak Sekadar Profit

Yayasan Peduli Kasih Pamer Lukisan dan Launching Buku Karya Para ABK

Mengintip Rumah Meggy Wulandari, Istri Kiwil yang Sempat Capek Layani Nafsu Suami, Dapurnya Sempit

Ibu teman saya lantas menegur, lanjut Mus, kalimat seperti itu tidak pantas dikatakan pada orang yang lebih tua. Dari situ saya belajar, bagaimana saya harus berbicara denga orang yang berbeda usia.

Selanjutnya saat kami bermain engkle misal, lanjut Cak Mus. Saat saya bermain, ada teman-teman saya yang mengawasi apakah kaki saya menginjak garis atau tidak.

"Dalam permainan engkle, kita bisa sama-sama belajar soal kejujuran melalui adegan menginjak garis atau tidak. Seberapa kuatnya kita berbohong, teman-teman yang mengawasi permainan kita juga akan sekuat tenaga meluruskannya," papar Cak Mus.

Menurut Cak Mus, dolanan tradisional dapat menjadi media pembelajaran etika yang menyenangkan untuk anak-anak.

Berbeda dengan permainan digital yang bisa dimainkan sendiri, kadang membuat anak-anak jadi tidak tahu bagaimana lingkungan sosialnya dan tidak tahu bagaimana bersikap di dalamnya.

"Keterbatasan ruang kadang jadi alasan dolanan tradisional tidak lagi bisa dimainkan. Padahal, kita bisa jadikan keterbatasan itu tak terbatas," tutur Cak Mus.

Di akhir presentasinya, Cak Mus menunjukkan bagaimana anak-anak dari Cortraj Jambangan (komunitas bermain) bisa memainkan banyak permainan tradisional di atas panggung Amphiteater Q Building Universitas Petra, dibagi dua.

Penulis: Hefty Suud
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved