Breaking News:

Sumur Peninggalan Sunan Bejagung, Tak Surut Saat Kemarau, Dipercaya Sembuhkan Penyakit

Sebuah sumur dengan kedalaman sekitar 35 meter menjadi ikon di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

M Sudarsono/Surya
Kades Bejagung, Aang Sutan saat turun ke dasar sumur menggunakan alat kerek untuk membersihkan sampah di dalamnya, Jumat (18/10/2019) 

 TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - Sebuah sumur dengan kedalaman sekitar 35 meter menjadi ikon di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Sumur yang dibangun sekitar tahun 1841 tersebut diberi nama Sumur Mbah Asyari (Sunan Bejagung Lor, red), sumur itu tak pernah surut meski saat musim kemarau berlangsung.

Bahkan air sumur dipercaya bisa mengobati penyakit.

Tak heran jika tradisi membersihkan sumur yang dibuat oleh Mbah Pamong (santri Sunan Bejagung Lor, red) tetap dijalankan.

Kepala Desa Bejagung, Aang Sutan mengatakan, sumur ini memang dipercaya mempunyai khasiat bisa mengobati berbagai penyakit.

Di antaranya penyakit gatal-gatal dan sejumlah penyakit lainnya.

Biasanya para peziarah di makam Sunan Bejagung Lor seusai ziarah mengambil air yang diyakini berkhasiat.

"Ini sumur keramat, dipercaya bisa menyembuhkan penyakit," kata Aang seusai memimpin prosesi kuras sumur kepada Tribunjatim.com, Jumat (18/10/2019).

Kasus Video Kucing Minum Ciu, Polisi Tak Temukan Bukti Penganiayaan, Aktivis Diizinkan Buat Laporan

Melly Goeslaw Gemas Lihat Zaskia Sungkar Kumpul Bareng Syahrini & Adiknya: Jamaah Kenapa Gak Ngajak?

BREAKING NEWS: Penculik dan Pembuhun Bangkit Maknutu Ditangkap Polrestabes Surabaya

Dia menjelaskan, untuk tradisi kuras sumur ini dilakukan setiap dua tahun sekali, tepatnya jatuh pada Jumat legi.

Untuk yang pertama turun membersihkan sampah yang mengendap di sumur tak lain harus masih keturunan dari Mbah Pamor.

Proses penurunan orangnya menggunakan alat kerek, begitupun pengangkatan sampah menggunakan Jong (bak dari bambu, red) juga dikerek.

Aneka macam sampah selama 24 bulan itupun terangkat, ada batu, botol plastik hingga uang koin dari peziarah yang diceburkan ke sumur.

"Ya saya yang ngawali turun untuk membersihkan sampah di dalam sumur. Setelah itu nanti warga lain secara bergantian membersihkan," jelasnya kepada Tribunjatim.com.

Usai sampah di dalam sumur dibersihkan, selanjutnya akan dilakukan proses makan bersama warga dan gebyar minum es dawet yang dilakukan setelah salat jumat.(nok/Tribunjatim.com)

Penulis: M Sudarsono
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved