Ular Piton Keluar, Diduga Adanya Musim Pancaroba dan Rusaknya Vegetasi Habitat Hewan Liar

Warga Jalan Candi Lempungan, RT 03 RW 09, Lontar, Sambikerep, Surabaya, digegerkan dengan kemunculan seekor ular jenis Piton Sono Kembang, Sabtu

Ular Piton Keluar, Diduga Adanya Musim Pancaroba dan Rusaknya Vegetasi Habitat Hewan Liar
Tribunjatim/Luhur Pambudi
Ular Piton Sono Kembang yang berhasil ditangkap warga Lontar Surabaya, kini disimpan di bekas sangkar burung dara 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Warga Jalan Candi Lempungan, RT 03 RW 09, Lontar, Sambikerep, Surabaya, digegerkan dengan kemunculan seekor ular jenis Piton Sono Kembang, Sabtu (16/11/2019) malam.

Ukuran panjang ular berwarna dominam coklat itu sepanjang empat meter.

Dan beratnya nyaris setara dengan satu karung semen yakni 40-50 kilogram.

Menurut warga setempat Mariyadi (41), kemunculan ular tersebut ditengarai akibat rusaknya habitat tempat tinggal ular.

Di sisi timur pemukimannya, terdapat hamparan tanah yang luasnya diperkirakan lebih dari satu hektar.

Hamparan tanah seluas itu, ungkap Mariyadi, semula banyak ditumbuhi pepohonan tinggi dan tanaman liar.

Belakangan setelah tanah tersebut menjadi milik pihak pengembang perumahan, beberapa pohon besar dan area rerumbun tanamanan liar menyusut, karena gegap sempitanya proses pembangunan.

Tak pelak, alih fungsi lahan itu membuat vegetasi lingkungan hidup hewan-hewan liar, termasuk ular piton Sanca Kembang yang ditemukan warga itu, terganggu.

"Ini kan ditebangi (tanah luas di samping sungai). Tanah perumahan baru, dan pohonnya disini banyak ditebangi, ya sekitar 1 bulan lalu," katanya pada TribunJatim.com di lokasi penemuan ular, Minggu (17/11/2019).

Sementara itu, Ketua RT 03 Purwo Subekti (49) berpendapat lain tentang anasir kemunculan ular piton berukuran besar itu.

Ular Piton 4 Meter Gegerkan Warga Lontar Surabaya, Butuh 1 Jam Menangkapnya

Chris John Puji Performa Daud Yordan yang Berhasil Tumbangkan Petinju dari Afrika Selatan

Limbah Menggunung di Cerme Tak Kunjung Dipindah, Begini Jawaban DLH Gresik

Menurut pria yang dikenal kerap mengenakan topi urang khas Bali itu, kemunculan ular tersebut dapat ditengarai secara periodik, yakni setiap enam bulan sekali

Dan biasanya dilatarbelakangi oleh kondisi fase musim menginjak pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan.

"6 bulan lalu itu ada penampakan ular di lokasi itu, besar sekali lebih besar dari itu, ya ga ada yang berani megang ya udah dibiarin. Eh ini muncul lagi," jelasnya Subekti kepada Tribunjatim.com.

"Pokoknya setiap jelas musim hujan selalu keluar ya kayak gini itu. Faktor cuaca mungkin, panas kan pancaroba," pungkasnya.

Penulis: Luhur Pambudi
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved