Jalan Lain Tanpa Amputasi bagi Penderita Diabetes
Tak menyerah pada 'vonis' amputasi, Tutik Hasanah pilih pengobatan lain untuk sembuhkan luka di kakinya akibat diabetes. Pilihan jatuh pada Pediscare.
Penulis: Aminatus Sofya | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Tutik Hasanah hampir putus asa ketika mendengar kabar dari dokter.
Kakinya divonis harus amputasi.
Penyebabnya, luka kronis akibat diabetes telah parah. Apabila amputasi tak segera ditempuh, kata dokter, infeksi di kaki Tutik dikhawatirkan menyebar hingga ke otak.
“Tapi saya masih berkeyakinan bahwa ada yang lukanya lebih parah dari saya. Dan mereka tidak sampai diamputasi,” kata Tutik Hasanah ketika ditemui TribunJatim.com, Senin (29/12/2019).
Kepada anaknya, Tutik Hasanah bersikukuh tidak ingin masuk meja operasi untuk mengamputasi kaki.
• Mie Setan Mulyorejo Terbakar, Korban Jiwa Akibat Ledakan Elpiji Restoran Bertambah Jadi 2 Orang
• Dimas Nur Sarifudin Jadi Korban Kebakaran Mie Setan Mulyorejo, Dikenal Sosok yang Gemar Kopi Pahit
Sambil memeluk sang putra, Tutik Hasanah ingin pulang dari rumah sakit dan menjalani pengobatan herbal.
Harapan mulai muncul ketika Tutik Hasanah berobat ke Pediscare.
Menjalani rawat jalan selama enam bulan, kaki dia akhirnya sembuh.
Hingga pada akhirnya, Tutik Hasanah dinyatakan tak perlu kembali per Desember tahun ini.
“Awal Desember kemarin sudah 'diwisuda', katanya. Ibaratnya, sudah tidak perlu di bawa ke klinik (Pediscare) lagi,” ucap dia.
Tutik Hasanah adalah salah satu dari sekian pasien Pediscare yang lepas dari ancaman amputasi.
Pediscare adalah sebuah klinik di Kota Malang yang khusus menangani luka kronis akibat diabetes, luka tekan dan kanker.
• Terungkap Firasat Aneh Koki Mie Setan Mulyorejo, Sebelum Kebakaran, Sampai Mati Aku di Mie Setan
• Jenazah Koki Mie Setan Dimas Nur Sarifudin Tiba di Rumah Duka, Kerabat dan Tetangga Berdatangan
Pendiri klinik adalah Ahmad Hasyim Wibisono.
Ahmad Hasyim Wibisono sangat mencintai profesinya sebagai perawat.
Cinta inilah yang membuat Hasyim, begitu ia disapa, mendirikan sebuah klinik perawatan luka kronis bersama istrinya, Ayu Nanda.
Ketika menempuh studi master di Universitas Indonesia (UI) Hasyim gelisah.
Pasalnya, Indonesia menempati peringkat keenam penderita diabetes terbanyak di dunia.
Parahnya, komplikasi luka diabetes menjadi masalah tanpa solusi. Hingga amputasi, dinilai sebagai pilihan terbaik.
Ahmad Hasyim Wibisono tak sepakat dengan pilihan itu.
Dia lantas mengikuti pelatihan khusus penanganan luka kronis kepada pasien diabetes di Bogor.
“Dan benar, perawatan luka diabetes tak bisa disamakan dengan luka-luka lain yang hanya dibersihkan lalu diberi antibiotik,” kata Ahmad Hasyim Wibisono, Minggu (22/12/2019).
Berbekal pengetahuannya, Ahmad Hasyim Wibisono akhirnya mendirikan sebuah klinik yang ia namai Pediscare di tahun 2015. Hadirnya Pediscare, memberi harapan bahwa pasien diabetes tak harus kehilangan kaki.
Hingga kini kata Ahmad Hasyim Wibisono, Pediscare telah menangani lebih dari 200 pasien dengan luka kronis yang parah.
• 14 Terduga Teroris Ditangkap Densus 88 dari 12 Lokasi, Polda Jatim Perkuat Keamanan di Tahun 2020
• Kencang Dirumorkan Bakal Gabung ke Persebaya Surabaya, Arif Satria: Ada 7 Tim yang Mendekat
Beberapa di antaranya bahkan telah divonis agar kakinya diamputasi.
“Sering kali yang ke sini itu karena sudah RS A sudah nggak sanggup. Beralih ke RS B malah lebih buruk. Kondisi lukanya sudah parah bahkan kelihatan tulang. Tapi kami tetap treatment, kami rawat,” ujar dia.
Ahmad Hasyim Wibisono menilai, perawatan luka kronis kepada pasien diabetes di Indonesia masih sangat buruk.
Tenaga medis di RS masih menggunakan metode konservatif dan memberikan obat yang tidak sesuai,
“Padahal kalau dirawat dengan bagus, tingkat kesembuhannya tinggi dan tidak perlu diamputasi,” ucapnya.
Perjalanan Ahmad Hasyim Wibisono dengan Pediscare tak sepenuhnya mulus apalagi di tahun pertama.
Tiga bulan setelah kliniknya buka, tak seorang pasien pun datang.
Namun, dia dan istri tak patah arang.
Ditambah seorang staff, mereka akhirnya memutuskan untuk menyambi sebagai petugas marketing yang keliling ke tempat praktik dokter.
• Refleksi Akhir Tahun 2019 Gerakan Santri Millenial Jatim: Siapkan SDM untuk Kemajuan Indonesia
• Dapat Tawaran Klub Asal Malaysia dan Thailand, Begini Jawaban Evan Dimas
“Responnya para dokter bagus. Mereka bilang kami ditunggu-tunggu karena selama ini tidak pernah ada perawat yang khusus menangani luka-luka kronis,” ujar Ahmad Hasyim Wibisono.
Dua bulan setelahnya, klinik Ahmad Hasyim Wibisono mulai kedatangan pasien satu demi satu.
Masyarakat, mulai mengenal Pediscare sebagai tempat untuk menyembuhkan luka kronis terutama akibat penyakit diabetes.
Jerih payah Hasyim mulai terlihat di tahun kedua. Di periode ini, Pediscare mulai menambah kru sebab kewalahan meladeni pasien,
“Kami menambah dua orang. Satu orang kru sudah kewalahan karena pasien kami meningkat dua kali lipat,” ucapnya.
Tahun 2018, Pediscare mulai memanfaatkan teknologi dengan menggunakan aplikasi untuk mengkaji luka.
Aplikasi bernama ND Kare itu, mampu mengukur dimensi luka dengan akurasi mencapai 80 persen.
“Aplikasi ini seperti sebuah standar bagi klinik kami. Kadang antara perawat satu dengan yang lain, akurasi mengukur luka bisa berbeda. Dengan ini, menjadi ada standarnya,” ucap Ahmad Hasyim Wibisono.
Bapak dua anak ini mengungkapkan ND Kare juga berfungsi sebagai rekam medis digital.
Progress penyembuhan pasien, bisa dipantau secara real time.
Hasyim yang kini sedang melanjutkan studi, tak perlu khawatir sebab bisa sewaktu-waktu melihat proses perawatan yang dilakukan oleh kru-nya.
“Kalau misal ada pasien yang progressnya lambat nih, saya bisa kasih masukan bagusnya pakai metode ini. Jadi nggak perlu lah pakai rekam medis nulis gitu,” katanya.
• Kontrak Tidak Diperpanjang Persela, Striker Asing Persela Lamongan Dilirik Tira Persikabo
• PW Muhammadiyah Jatim: Tahun Baru Bukan Untuk Dirayakan, Tapi Evaluasi
Membantu orang tak mampu
Hasyim berkeinginan Pediscare menjadi rumah bagi semua pasien dengan luka kronis. Tak peduli dia kaya atau miskin.
Pasein yang ditangi oleh Pediscare memang mayoritas berasal dari masyarakat ekonomi lemah. Ketika datang, luka pada kaki sudah membusuk hingga menyisakan tulang.
“Tapi hati nurani kami kan nggak mungkin nggak diobati. Harus tetap ditolong,” kata Ahmad Hasyim Wibisono.
Pediscare akhirnya berusaha menggalang bantuan bagi pengobatan pasien miskin melalui seminar amal.
Uang pendaftaran seminar, dimasukkan ke dalam kas yang nantinya menjadi dana talangan perawatan masyarakat tak mampu.
Hasyim mengakui bahwa tarif berobat ke Pediscare lebih mahal dari RS.
Apalagi, perawatan luka kronis penderita diabetes tidak dicover BPJS Kesehatan.
“Tapi dengan dana talangan itu kami tetap bisa menjangkau pasien dari keluarga tak mampu. Sampai sekarang,” ujarnya.
Dosen di Universitas Brawijaya ini berharap semakin banyak orang yang bisa dijangkau oleh Pediscare.
Yang terbaru, Pediscare meluncurkan program homecare dan caregiver, sebuah layanan perawatan luka bagi penderita diabetes di rumah.
Kata Hasyim, banyak hal yang bisa dikerjakan seorang perawat.
“Jadi nggak cuma kerja di rumah sakit. Tapi juga bisa bermanfaat di luar itu,” pungkas Ahmad Hasyim Wibisono.
• Pemprov Segera Bentuk PPMO untuk Realisasikan 218 Proyek Percepatan Pembangunan di Jatim
• Nasibnya Belum Jelas, Aryn Williams Masih Ingin Bela Persebaya Surabaya Musim Depan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ahmad-hasyim-wibisono.jpg)