Warga Mojokerto ini Tidak Bisa Tidur Saat Hujan Deras, Trauma Longsor
Pikiran Legini (45) warga Dusun Watusari, Desa Watonmas Jedong, Ngoro Kabupaten Mojokerto, diselimuti kekhawatiran bila musim penghujan tiba.
Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Pikiran Legini (45) warga Dusun Watusari, Desa Watonmas Jedong, Ngoro Kabupaten Mojokerto, diselimuti kekhawatiran bila musim penghujan tiba.
Dia cemas kejadian tanah longsor yang pernah menimpa Dusun Watusari Januari 2018 kembali terulang.
"Kejadian tanah longsor setahun lalu masih terbayang diingatan. Saya khawatir kejadian itu terulang," katanya saat ditemui dikediamannya Sabtu (5/1).
Legini mengatakan, saat hujan mengguyur Dusun Watusari, dia tak berani berada di dalam rumah. Dia memilih berada di teras rumah berkumpul dengan keluarga, lantas memandang kearah Gunung Penanggungan dan Bekel.
Itu dilakukan, bila terjadi tanah longsor, dia dan keluarga bisa cepat menyelamatkan diri.
"Setiap hujan turun entah pagi, siang, atau malam saya dan keluarga selalu memilih untuk berada di teras melihat kondisi gunung sembari berdoa. Kami tak bisa tidur lelap saat hujan, takut ada longsor," paparnya kepada Tribunjatim.com.
Legini mengungkapkan, para warga Dusun Watusari rutin menggelar doa bersama. Mereka memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa agar Dusun Watusari terhindar dari bencana longsor dan untuk keselamatan warga.
• Asmara Pilu Nenek Janda 59 Tahun & Brondong Pernah Viral, Akhir Tragedi Lebih Tragis Ada di Semarang
• Penyebab Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Timur karena Curah Hujan Ekstrem
• Drama Pilu Hajatan Janda Jateng Ditolak Warga Pernah Viral, Tamu Dilarang Datang, Makanan Dibuang
"Setiap bulan warga rutin menggelar istighosah dan selamatan agar Dusun Watusari terhindar dari segala bencana," ungkapnya kepada Tribunjatim.com.
Musibah tanah longsor terjadi di Dusun Watusari, Desa Watonmas Jedong, Ngoro Kabupaten Mojokerto, Jumat 18 Janurai 2018. Longsoran tanah yang membawa material batu berukuran sekitar 1,65 meter x 1 meter dan pohon tersebut berasal dari Gunung Bekel.
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, dua warga sempat terseret longsoran tanah. Dia adalah Abdul Rozak (45) dan Legini (45).
Rumah Abdul Rozak dan Legini berada sekitar 5 meter dari bibir sungai Kemiri. Sehingga rumah mereka terkena terjangan longsor.
Kala itu, Legini dan Abdul Rozak sedang berada di dalam rumah. Longsoran itu merusak pintu dan seketika masuk dan memprorak-porandakan seisi rumah, begitu juga dengan sepasang suami-istri itu.
Longsoran tanah itu menghantam tubuh mereka. Abdul sontak mendekap tubuh istrinya. Abdul dan istrinya terseret longsoran tanah sejauh 10 meter. Beruntungnya mereka terseret ke sisi kanan rumah bukan sisi kiri atau ke arah Sungai Kemiri.
Abdul juga berhasil menggapai pohon jenis kejaranan. Sehingga dia tak terseret longsoran tanah lebih jauh. Mereka pun selamat. Namun, bagian dalam rumahnya rusak parah dan harta benda pun lenyap.
Beruntung, para relawan dari Nahdlatul Ulama, seorang Kyai, dan sejumlah komunitas membantu membangun rumah baru untuk mereka. Rumah baru itu dibangun tepat disebelah rumah lama yang diterjang tanah longsor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-mojokerto-banjir-bandang-di-padusan.jpg)