Nelayan Dungkek Sumenep Ngotot Pakai Sarkak untuk Jaring Rajungan: di Sini Tak Ada Karang Laut

Nelayan Dungkek Sumenep bersikukuh pakai alat sarkak untuk menangkap rajungan, sebut daerahnya menangkap ikan tak ada terumbu karang.

Nelayan Dungkek Sumenep Ngotot Pakai Sarkak untuk Jaring Rajungan: di Sini Tak Ada Karang Laut
TRIBUNMADURA.COM/ALI HAFIDZ SYAHBANA
Puluhan nelayan Desa Romben Guna saat mendatangi kantor Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Selasa (11/2/2020). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Ali Hafidz Syahbana

TRIBUNJATIM.COM, SUMENEP - Penggunaan alat tangkap sarkak terus menuai kontroversi di kalangan nelayan Kecamatan Dungkek vs Talango.

Polemik penggunaan alat tangkap sarkak itu terus berlarut - larut hingga hari ini, Selasa (11/2/2020)

Marwiyani (45) warga Desa Romben Guna, Kecamatan Dungkek menceritakan, jika penggunaan alat tangkap sarkak tidak merusak ekosistem laut seperti yang sudah tertuang dalam Permen KP Nomor 71/Permen-Kp/2016 Tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Tangkap Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Histeris Ibu di Nganjuk Lihat Anaknya Gantung Diri di Ruang Tamu, Korban Alami Gangguan Jiwa

PSI Surabaya Masih Fokus Jalani Konvensi, Hasilnya Bakal Tentukan Figur Layak & Arah Koalisi

"Sarkak itu tidak merusak ekosistem laut, jika memang merusak karang laut yang jelas alatnya putus atau rusak, kan itu ditarik," cerita Marwiyani, salah satu perwakilan nelayan sarkak.

Bawah laut antara Desa Romben Guna - Pulau Poteran (Kecamatan Talango) ini kata Marwiyani dasarnya hanya pasir, bukan karang yang dirusaknya saat mengais rajungan dengan alat tangkap sarkak.

"Kalau di tempat lain pak itu dapatnya batu, tidak ada rajungan, kan tempatnya rajungan di pasir atau lumpur istilahnya," lanjutnya.

Arema FC Hanya Mainkan Oh In Kyun Sebagai Starter, Berikut Susunan Pemain Arema FC Vs Sabah FA

Profil Lucinta Luna yang Ditangkap Polisi Terkait Narkoba, Pernah Perawatan Tubuh hingga Rp 1 Miliar

Mayoritas warga Desa Romben Guna ini katanya, mata pencahariannya rajungan dan jika dipaksa untuk menggunakan alat selain itu yang didapat bukan rajungan, melainkan ikan biasa yang harus menggunakan alat jaring.

"Rata - rata kan di sini mencari rajungan, yang ada hanya antara perairan dungkek - talango. Kalau jaring ikan di daerah lain, seperti di pulau Podaya, Giliyang dan lainnya," terangnya.

Ditanya kenapa tidak menggunakan alat tangkap bubu saja, pihaknya mengaku tidak tahu caranya dan juga merugikan pendapatnya.

Satgas Anti Judi Mulai Diterjunkan Jelang Pilkada dan Pilkades Serentak di Sidoarjo

Jadi Tuan Rumah Porprov, Pemkab Situbondo Anggarkan Rp 6 Miliar Lebih

"Menggunakan bubu kita harus beli umpan lagi dan kita tidak tahu caranya, tapi alat sarkak sekali beli bisa digunakan puluhan tahun," katanya.

Alat bubu itu menurutnya, harus dipasang selama 24 jam di laut. Kalau alat sarkak jam 6 pagi berangkat dan jam 2 siang sudah pulang.

"Terus terang jika menggunakan alat jaring itu hanya berumur paling lama empat hari, setelah itu rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Hasil hanya Rp 70 ribu, sedangkan untuk membeli lebih dari Rp 100 ribu ini tidak cukup," tuturnya.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana

Editor: Heftys Suud

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved