Breaking News:

PWNU Jatim Ungkap Cara Perlakukan Jenazah Akibat Covid-19, Ada Kondisi Jenazah Tak Perlu Disalati

PWNU Jawa Timur memaparkan cara memperlakukan jenazah yang meninggal akibat virus Corona

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Januar Adi Sagita
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Ilustrasi- jenazah akibat virus Corona 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) KH Marzuki Mustamar meminta masyarakat untuk berhati-hati dalam memandikan jenazah yang meninggal akibat virus Corona (Covid-19).

Menurut Marzuki, jika di rumah sakit sudah ada tempat fasilitas untuk memandikan jenazah, lebih baik dimandikan di rumah sakit dan pihak keluarga tidak memaksa untuk dimandikan di rumah.

"Kalau sekiarnya memungkingkan dimandikan, monggo tetap dimandikan. Kalau enggak mungkin ya tidak usah dimandikan. Kalau tidak bisa dimandikan berarti tidak usah disalati. Karena syaratnya disalati itu dimandikan sah dan dikafani," ucap Marzuki, Selasa (31/3/2020).

Kapolres Gresik Tegaskan Pria Tewas di Depan Swalayan Jalan RA Kartini Bukan karena Virus Corona

Sedangkan jika jenazah tersebut sudah dimandikan dan dikafani, menurut Marzuki harus ada yang melaksanakan salat jenazah, setidaknya keluarga dari jenazah dengan tetap memperhatikan keamanan.

"Kalau sudah dimandikan ya harus disalati," lanjut Marzuki.

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang ini menambahkan, dalam kasus kematian karena Corona, dokter, tenaga medis ataupun pihak yang berwenang harus memberikan sosialisasi baik kepada keluarga maupun para tetangga jenazah terkait keamanan dalam memperlakukan jenazah mulai dari memandikan hingga menguburkan.

"Masyarakat jangan ditakut-takuti dokter harus berfatwa. Dokter yang mengerti betul kondisi jenazahnya. Kalau tidak aman harus melarang masyarakat jangan ikut melayat," ucapnya.

Jikalau memang aman khususnya keluarga, anak  dari jenazah harus melaksanakan salat jenazah.

"Karena berat juga konsekuensinya jika yang meninggal itu seorang ibu dan anaknya tidak menyalatkan," lanjut Marzuki.

Sementara itu, Dirut RSUD dr Soetomo Joni Wahyuhadi yang juga sebagai Koordinator Gugus Tugas Kuratif Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur mengatakan penguburan dan pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 sudah ada pedomannya.

"Saya persingkat saja dia (Jenazah) harus di plastik, tidak tembus udara, dan tidak boleh ada cairan yang keluar, kemudian diberi disinfektan, dalam 4 jam kalau bisa sudah dilakukan pemakaman," kata Joni.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved