Virus Corona
Tips Mengatasi Stres dan Mengurangi Rasa Cemas Selama Karantina Mandiri Menurut Psikolog, Simak!
Inilah tips mengurangi stres dan mengurangi rasa cemas selama karantina mandiri menurut psikolog.
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Arie Noer Rachmawati
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Hampir dua bulan imbauan di rumah saja atau mengurangi aktivitas di luar rumah yang dikampanyekan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19.
Pemerintah mengimbau agar aktivitas dapat dilakukan di rumah, misalnya bekerja, belajar dan beribadah.
Banyak orang mungkin sudah merasa bosan menjalani masa karantina mandiri atau beraktivitas di rumah dalam wabah Corona.
• FAKTA Antibodi Covid-19 dari Darah Unta, Peneliti Ungkap Kebenaran Soal Virus & Terapi, Benar Ampuh?
Menurut Dosen Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Taufik Akbar Rizqi Yunanto, kondisi bosan dan kecemasan muncul sebagai penyesuaian diri dalam kondisi yang tidak menyenangkan atau tidak nyaman di luar kebiasaan.
Misalnya, disebut Taufik, kebiasaan bekerja di kantor, belajar di sekolah yang harus diganti online dan lebih banyak aktivitas di rumah.
"Karena kita keluar dari zona nyaman kita, karena kita sudah terbiasa dan terbentuk habit kemudian harus menyesuaikan diri bekerja, beristirahat di rumah. Itu asal muasal stres dan cemas," kata Taufik Akbar Rizqi Yunanto melalui telepon, Senin (20/6/2020).
• Sosok Ibu Nikita Mirzani yang Tak Terekspos, Berhijab, Blasteran & Suka Emas, Jedar: Mirip Kak Fitri
• Skandal Suami Hamili Ibu Mertua, Akhiri Rumah Tangga Hanya Dalam 2 Bulan
Selain kebiasaan yang berubah, alasan psikologis dari karantina mandiri yang terasa menjenuhkan selama Corona ini juga dipengaruhi dari penyesuaian physical distancing.
"Kondisi-kondisi berbeda yang akan dialami masyarakat dapat memicu kecemasan sendiri," kata dia.
Meski masyarakat sudah mulai terbiasa dengan aktivitas selama karantina mandiri, lanjut Taufik, masalah utama pandemi Corona ialah tidak ada kepastian kapan wabah akan berakhir.
• Tips Relaksasi Selama Jalani Social Distancing Menurut Pakar Psikologi, Rasa Trauma Bisa Berkurang
Kondisi ini amat mungkin menjadi beban pikiran lain yang membuat kecemasan selama karantina mandiri.
"Kondisi uncertainty, inilah yang membuat semakin cemas. Kapan ya kira-kira selesai, akan berakhir, kapan masuk kantor lagi dan kapan bisa berinteraksi dengan teman-teman ku lagi. Kondisi ketidakpastian ini memicu semakin cemas, stres dan tidak ada harapan," beber Taufik.
Bahkan, perubahan kondisi semakin cemas bisa mempengaruhi fisik atau psikosomatik.
"Karena kita kondisi cemas, stres kemudian kondisi fisik kita mereaksi tiba-tiba asam lambung naik, mulas, pusing sendiri, terlalu banyak mendapat informasi tentang Covid-19," kata Taufik.

Tips Kurangi Cemas dan Stres Selama Karantina Mandiri
Pertama, bersyukur masih bisa di rumah dan berinteraksi dengan keluarga meski di tengah pandemi.
Rasa syukur membuat seseorang lebih mampu mengelola stres dengan baik.
Orang yang bersyukur bisa menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangan yang ada.
Misalnya, pekerjaan yang masih bisa dilakukan di rumah dan menghargai pekerjaan orang lain di luar rumah.
• Tips Efektif Pakai Masker dari Dokter Spesialis Anak Surabaya: Terpenting Ukuran dan Sering Dicuci
"Kita melihat dari segala hal, kita mensyukuri apa yang didapatkan hari ini. Menjadi lebih positif menjalani hari ini," kata dia.
Kedua, membuat jadwal yang jelas untuk aktivitas harian.
Baik menyangkut pekerja, kegiatan domestik, waktu istirahat maupun waktu senggang menyegarkan pikiran.
"Kalau tidak mindfull, kondisinya kita kerja tapi ingin rebahan padahal waktunya bekerja. Itu kalau tidak membuat to do list," jelas Taufik.
• Tips Jaga Bentuk Tubuh Selama di Rumah ala Influencer Vivian, Makan Bergizi dan Coba Olahraga Ringan
Ketiga, masih berkaitan dengan privasi, adalah meditasi, memasak menu baru, olahraga dan mencari cara kreatif untuk tetap produktif.
"Meditasi biasanya dilakukan pagi hari. Mensyukuri dan siap menjalani hari-hari dengan senyuman dan bahagia. Sehingga menjalani aktivitas di rumah saja dengan positif," tutup Taufik.
Penulis: Nur Ika Anisa
Editor: Arie Noer Rachmawati