Virus Corona di Jawa Timur
Kajian Epidemiologi Memasuki Hari ke-10 PSBB Surabaya Raya, Hasilnya Belum Menggembirakan
hari 10 penerapan pPembatasan sosial bBerskala Besar(PSBB)di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik secara epidemiologi Belum Memuask
Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Memasuki hari ke sepuluh penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik secara epidemiologi belum menghasilkan kabar yang menggembirakan.
Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur Joni Wahyuhadi, Kamis (7/5/2020).
Joni Wahyuhadi menyebut belum ada hasil menggembirakan dari kajian epidemiologi yang dilihat dari tren penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19, kasus PDP, maupun kasus ODP di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik.
Saat ini Kota Surabaya masih menjadi daerah terbesar kasus konfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur. Per siang ini total ada 586 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Surabaya. Dengan penambahan di hari kemarin sebanyak 17 kasus.
Kemudian Kabupaten Sidoarjo menjadi daerah kedua dengan kasus terkonfirmasi covid-19 terbanyak. Dimana saat ini jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di daerah tersebut ada sebanyak 140 kasus. Penambahan hari kemarin untuk kasus positif Covid-19 di Sidoarjo ada 11 kasus.
• 362 Kendaraan Dipaksa Putar Balik Saat Gelaran Operasi Ketupat, Mobil Pribadi Masih Dominan
• BREAKING NEWS - Hasil Rapid Test Jamaah Salat Tarawih di Masjid Al Ikhlas Bluru, 6 Reaktif Covid-19
• Curhat Pedih Cowok 6 Tahun Pacaran Ditinggal Nikah Dulu Viral, Banyak Orang Kaget: Jangan Kasari Dia
Kemudian di posisi tiga terbanyaj ada Magetan dengan jumlah kasus 48 orang, lalu Kabupaten Lamongan ada sebanyak 47 kasus, lalu disusul Kabupaten Malang sebanyak 41 kasus, dan di posisi ke enam ada Kabupaten Gresik dengan 36 kasus.
"Yang penting kami laporkan disini bahwa kondisi kasus konfirm positic covid-19 kalau kita lihat grafiknya di tiga daerah yang kita PSBB memang belum menggembirakan. Tapi kasus konfirm ini kan memang berdasarkan pelaporan dari Kementerian Kesehatan yang bisa jadi hasil dari pemeriksaan beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi memang trend-nya masih naik di tiga daerah ini. Ini perlu mendapat perhatian serius," tegas Joni Wahyuhadi.
Selama sepuluh hari terakhir penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 di Surabaya Raya masih naik. Padahal poin ini menjadi parameter utama dalam tolok ukur keberhasilan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Begitu juga untuk tren kasus Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Joni Wahyuhadi menjelaskan, bahwa tren selama sembilan hari terakhir trennya juga masih naik.
Artinya penerapan PSBB di Surabaya Raya belum menghasilkan progres signifikan. Karena dari grafik pertambahan kasus PDP di tuga daerah tersebut masih belum turun.
"Tren untuk PDP juga tidak terlalu menggembirakan khususnya untuk Surabaya. Surabaya masih naik padahal sudah PSBB masuk hari ke sepuluh, tetapi untuk Sidoarjo dan Gresik penambahan day by day PDP atau pasien yang dirawat mulai landai atau bahkan menurun. Yang cukup baik Sidoarjo tapi semoga terus turun dan kita terus berusaha maksimal untuk menurunkan yang Surabaya," tegas Joni yang juga domter spesialis bedah syaraf ini.
• Begini Hasil Rapid Test 10 Remaja Peserta Balap Liar Kota Malang, Kapolresta: Terus Gencar Operasi
Sebagaimana diketahui, data PDP di Surabaya Raya berturut turut hingga hari ini yaitu untuk Surabaya 1.354 kasus, kemudian untuk Kabupaten Sidoarjo ada 208 kasus, dan untuk Kabupaten Gresik ada sebanyak 156 kasus.
Berikutnya untuk tren Orang Dalam Pemantauan (ODP) dikatakan Joni bahwa tiga daerah Surabaya menunjukkan tren menurun. Akan tetapi h ini justru harus diperhatikan. Sebab tren PDP dan Positif Covid-19 di tiga daerah ini masih naik, seharusnya linier dengan ODP.
"Jadi untuk ODP tiga-tiganya menunjukkan tren yang menurun tetapi sebetulnya kita harus lebih waspada ya kalau PDP naik tapi ODP turun itu sebetulnya sesuatu yang harus kita analisis. Kalau PDP turun lalu ODP turun dan konfirm positif nya juga turun nah itu baru sabgat menggembirakan, tapi ini kan yang positif masih naik, yang PDP juga masih naik, ODP turun maka ini harus jadi catatan," tegasnya.
Prinsipnya, dalam penanganan wabah corona ini dikatakan Joni ada empat. Yang ia sebut dengan TTIT, yaitu test, treat, isolation, and tracing. Empat hal ini harus dimaksimalkan untuk bisa menekan penyebaran wabah dan penghentikan penularan.
"Test harus maksimal dilakukan, lalu perawatan pasien yang terinfeksi juga harus dimaksimalkan. Kemudian isolasi juga sangat penting untuk mencegah adanya penularan yang masif dari wabah. Baru kemudian tracing untuk memastikan tidak ada penularan lagi," pungkas Dirut RSUD Dr Soetomo Dr dr Joni Wahyuhadi ini. (fatimatuz zahroh/Tribunjatim.com)