Virus Corona di Mojokerto
Pasutri di Mojokerto Dinyatakan Sembuh Dari Covid-19
Mustaqim (50) warga Sooko Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur begitu tegar menghadapi cobaan dikala sang istri dinyatakan positif terpapar Covid-19.
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Mustaqim (50) warga Sooko Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur begitu tegar menghadapi cobaan dikala sang istri dinyatakan positif terpapar Covid-19.
Dia tetap setia mendampingi sang istri Nyonya L (43) selama pengobatan di ruangan karantina meditasi RSUD dr Soekandar, Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Tanpa mempedulikan resikonya ia pun juga tertular Virus Corona dan dinyatakan terpapar positif Covid-19.
Pasangan Suami Istri (Pasutri) ini selalu bersama untuk berjuang melawan Virus Corona semenjak pertama kali divonis positif pada 21 April 2020.
Sampai pada akhirnya, perjuangan Pasutri ini berbuah manis hingga dinyatakan sembuh negatif Covid-19.
"Dari awal keputusan tidak akan pergi meninggalkannya, saya tetap akan mendampingi istri dan bersedia kapanpun disini tidak akan membiarkannya sendiri karena saya sudah siap apapun risikonya," ujar Mustaqim sembari terisak, Jumat (19/6/2020).
• Sikapnya Kepada Azriel dan Aurel Hermansyah Dipuji Raffi Ahmad, Ini Jawaban Jujur Ashanty
• DPRD Sidoarjo Kesulitan Menentukan Tanggal Pelaksanaan Pilkades Serentak
• Panglima TNI dan Kapolri Cek Pendisiplinan Protokol Kesehatan di Jatim Jelang Normal Baru
Mustaqim adalah Orang Tanpa Gejala (OTG) yang sempat syok saat pertama kali berada di tempat karantina. Ia bersama istrinya beraktivitas di ruangan karantina seperti berolahraga, beribadah mengaji dan salat selama lebih dari 2 bulan menjalani karantina di rumah sakit.
"Memori yang tidak pernah terlupakan di kamar meditasi Rumah Sakit RSUD dr. Prof dr.Soekandar Mojosari 21 April sampai 2 Juni 2020 semoga menjadi pelajaran berharga bagi kami," ungkapnya.
Dikatakannya, perjuangan melawan Virus Corona menjadi pengalaman berharga dalam kehidupannya. Ia menyimpan keluh kesah selama berada di ruangan karantina bahkan menangis dan nelangsa pada malam takbiran tidak bisa berkumpul bersama tiga anaknya di rumah saat lebaran Idul Fitri.
"Tidak ketemu anak dan keluarga rasanya hancur tapi saya menerima ini adalah ujian karena penyakit ini Virus Corona bukan kita yang membuatnya memang sudah menjadi ketentuan dari Yang Maha Kuasa dan kami hanya mampu menerima kenyataannya dengan tulus dan ikhlas bahwa ditakdirkan kepada saya," ungkapnya kepada TribunJatim.com.
Menurut dia, sesungguhnya beban berat yang paling dirasakannya adalah ketika menghadapi stigma negatif dari masyarakat. Pasalnya, ketiga orang anaknya berada di rumah dan kedua orang tuanya menjalani perawatan di ruangan isolasi rumah sakit.
Ia selalu menyempatkan diri berkomunikasi intens dengan anak-anaknya dengan video call dan mengirim gambar video seputar aktivitasnya di ruangan karantina.
"Interaksi bersama keluarga melalui video call adalah obat penyemangat bisa membantu kita selama penyembuhan," terangnya.
Masih kata Mustaqim, mengkonsumsi makanan bergizi ditambah makan telur rebus setiap hari. Ia bersyukur diberi kesembuhan sehingga bisa menjalani kehidupannya secara normal bersama keluarganya.
"Saya minta tolong perawat dan rekan-rekan untuk membeli buah-buahan dan bersama istri rutin mengkonsumsi air kelapa hijau yang dicampur garam dan jeruk nipis diminum setiap hari," jelasnya.