Breaking News
Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Garis Edelweiss Merespons Suasana Hati Lewat Drawing, Selipkan Doa di Tiap Karya

Dalam karya-karyanya, seniman Garis Edelweiss kerap menciptakan suasana, tidak terpatok pada filosofi yang mendalam.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti | Editor: Dwi Prastika
TRIBUNJATIM.COM/CHRISTINE AYU
Seniman asal Kota Pasuruan, Jawa Timur, Garis Edelweiss berpose di depan karyanya. Garis kerap menggunakan media pensil dalam berkarya, Sabtu (4/7/2020). 

"Tiga bulan setelahnya, bapak wafat. Sejak itu, karya saya banyak merespons tentang kematian. Jadi agak menyeramkan," katanya.

Seniman Tuban Wadul pada DPRD, Minta Aktivitas Normal, Ngeluh 4 Bulan Tak Kerja hingga Jual Motor

Sebelum meninggal, bapaknya banyak bercerita soal kematian. Seolah-olah memang sudah mati.

"Saya banyak mengangkat objek-objek burung mati, tengkorak, burung gagak, dan lain-lain. Namun setelah setahun, ada sedikit perubahan," ungkap Garis Edelweiss.

Karya-karya selanjutnya kemudian banyak mengusung objek bayi. Ini karena Garis Edelweiss mendambakan kelahiran bayi perempuan.

"Jadi lebih banyak menggambar bayi dan tumbuhan. Jika sebelumnya nuansanya kematian, perlahan berubah ke kehidupan. Akhirnya menjadi harmoni, ada kematian dan kehidupan," ungkap Garis Edelweiss.

Sedangkan akhir-akhir ini, ia lebih banyak menciptakan suasana berkabut dalam sejumlah karyanya.

Buka We the Health, Bupati Mas Ipin Sebut Aplikasi Karya Anak Muda Trenggalek Bantu Atasi Covid-19

"Sekarang jadi banyak eksplor media seperti triplek, kayu, atau bahkan cor-coran. Ya menikmati prosesnya saja," katanya.

Karya-karya Garis Edelweiss cenderung bergaya surealis. Hal ini tak lepas dari sosoknya yang gemar dengan kisah fiksi dengan genre misteri.

"Suka banget sama film yang suasananya digarap secara sureal. Sampai sekarang saya tertarik misalnya sama film animasi Rango yang tokoh utamanya seekor kadal," katanya.

Garis Edelweiss juga banyak terinspirasi dari sejumlah seniman, seperti Zdzisław Beksiński yang identik dengan dark art.

"Saya membuat karya untuk menuangkan apa yang saya rasakan, yang saya suka. Sesederhana itu. Lewat drawing saya juga bisa jadi berkomunikasi dengan orang banyak," tandasnya.

Editor: Dwi Prastika

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved