KABAR Korban Pernikahan Bubar Paksa Ormas di Solo, Keluarga Umar Assegaf Pilu hingga Respon Gubernur

Inilah kabar keluarga korban pernikahan bubar paksa oleh Ormas di Solo, ternyata keluarga tersebut adalah keluarga Habib Umar Assegaf.

Tayang:
Penulis: Ignatia | Editor: Januar
TribunSolo.com
Lokasi acara pernikahan di SOlo dibubarkan secara paksa 

"Itu tidak memungkinkan untuk keluar dengan aman," tutur dia.

Memed mengungkapkan pihak keluarga meminta polisi supaya memberikan jarak 50 sampai 100 meter antara mereka dan massa.

Permintaan dikabulkan dan sanak keluarga yang memarkirkan mobil di luar kemudian keluar dan bergegas melajukan mobil.

"Mereka hanya mendapatkan intimidasi verbal dan tidak sampai kejadian fisik," ungkap dia.

Massa kemudian mencoba mendekati sanak saudara saat mobil CRV dari dalam rumah keluar.

4. Respon Gubernur Ganjar Pranowo

Menanggapi kejadian ini Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ikut buka suara.

Dilansir dari tayangan Youtube Kompas TV, Ganjar mengajak masyarakat untuk membangun segala perbedaan di Solo.

"Kita bisa menceritakan kejadian masa lalu soal kebersamaan untuk bisa mencegah hal ini terulang lagi, komunikasi dan relasi sosial coba kita bangun di Solo." ujar Ganjar.

Ganjar menjelaskan hal ini agar masyarakat bisa bersatu diantara perbedaan suku, agama, golongan, partai politik hingga perbedaan nasib.

"Di Solo itu sebenarnya banyak keindahan yang bisa kita tonton, maka itu yang perlu kita jaga, jangan yang seram saja yang ditampilkan" jelasnya.

Ganjar meyakini jika ini merupakan hal yang tidak mudah namun yakin bisa dilakukan.

"Kalau di Solo ada istilah 'Ayo ning wedangan' sambil minum di angkringan orang bisa mengobrol, suasana kebersamaan ini yang perlu ditingkatkan di masyarakat" ujar Ganjar.

Ganjar menjelaskan kegiatan inilah yang bisa dilakukan untuk merawat ke Indonesiaan di masyarakat.

5. Pesan Keluarga Umar Assegaf

Perwakilan keluarga, Memed di Mapolresta Solo menyampaikan pesan kepada seluruh lapisan masyarakat.

"Kami memiliki harapan, ini bukan hanya masalah kami, ini masalah kita bersama masalah negeri," kata Memed, Senin (10/8/2020). 

"Itu karena rekan-rekan kita di luar itu semacam tidak memiliki penyeimbang informasi sehingga mereka bisa terhasut," tambahnya.

Pihak keluarga, lanjut Memed, akan melakukan langkah hukum maksimal dalam melawan tindakan intoleran yang ada.

"Kami pihak keluarga hendak melaksanakan kerja sama yang maksimal untuk bersama-sama kita melawan intoleransi," ujar Memed.

"Yang ada melakukan langkah hukum yang maksimal, melakukan pressure sosial bersama rekan-rekan sekalian," papar dia.

"Itu agar tindakan anti kemanusiaan tidak boleh terjadi dimana-mana," imbuhnya.

Memed menekankan masalah intoleransi bukan hanya masalah segelintir pihak namun masalah bersama-sama.

"Kami mungkin menjadi awal, rumah keluarga kami menjadi awal untuk di Solo, siapa yang bisa menjami di tempat lain terjadi hal yang sama," tekan dia.

"Ini masalah bukan masalah sempit tapi masalah luas," tandasnya.

Artikel di atas dirangkum dari artikel yang telah tayang di TribunSolo.com dalam topik artikel berjudul Penyerangan Acara Pernikahan di Solo

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved