Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Pilkada Kota Pasuruan

Peneliti Prediksi Teno Bisa Tumbangkan Gus Ipul di Pilwali Pasuruan: Perilaku Politik Massa Kuncinya

Calon incumbent Teno bisa tumbangkan Gus Ipul di Pilwali Pasuruan, meski lawannya mantan Menteri dan Wagub dua periode. Peneliti beberkan kuncinya

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM/YUSRON NAUFAL PUTRA/BOBBY KOLOWAY
Raharto Teno Prasetyo dan Saifullah Yusuf - Teno Vs Gus Ipul di Pilkada Kota Pasuruan 2020 

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Menjelang pendaftaran calon wali kota dan wakil walikota 4-6 September 2020, atmosfir politik di Kota Pasuruan menghangat

Ini seiring akan terjadinya perang bintang dari dua pasangan yang maju Pilkada Kota Pasuruan 2020.

Yakni, pasangan Raharto Teno Prasetyo - M Hasjim Asjari ( TEGAS ) dan pasangan Saifullah Yusuf - Adi Wibowo.

Raharto Teno Prasetyo merupakan calon petahana. Dia sekarang menjabat Plt Wali Kota Pasuruan, sekaligus Ketua DPC PDIP Kota Pasuruan.

Sedangkan lawannya Saifullah Yusuf alias Gus Ipul adalah mantan Menteri PDT di era pemerinatahan Presiden SBY sekaligus mantan Wakil Gubernur Jatim dua periode .

Pasangan TEGAS diusung empat partai yakni PDIP, NasDem, Hanura dan Gerindra. Sedangkan Gus Ipul - Mas Adi diusung lima partai, PKB, Golkar, PAN, PKS dan PPP.

Baik pasangan Raharto Teno Prasetyo - M Hasjim Asjari maupun Gus Ipul - Mas Adi sama-sama punya peluang besar untuk memenangkan pertarungan Pilkada Kota Pasuruan 2020.

Lantas siapa yang berpeluang lebih besar meraih kemenangan? Koalisi di kubu petahana atau kubu penantang yang sarat dengan banyak pengalamannya.

Peneliti Pusat Studi dan Advokasi Kebijakan (PUSAKA) Lujeng Sudarto mengatakan, Gus Ipul - Mas Adi, ataupun pasangan TEGAS, sama-sama berpeluang menang dalam kontestasi Pilwali Kota Pasuruan.

"Dalam kontestasi pilkada, kemenangan calon ditentukan oleh dua kemungkinan. Pertama, pendekatan political machine atau mesin politik, kedua pendekatan political behavior," ujarnya, Selasa (1/9/2020).

Dia menjabarkan, untuk pendekatan political machine atau mesin politik, kemenangan pilkada ditentukan oleh soliditas dan struktur partai yang mampu bekerja maksimal, apalagi didukung oleh koalisi besar.

Sedangkan, political behavior, lanjut Lujeng, sapaan akrabmya, kemenangan pilkada ditentukan oleh perilaku politik massa. Bagaimana massa mempersepsikan masing-masing calon untuk dipilih.

"Dalam pendekatan poltical behavior yang marketable adalah figur. Keberadaan parpol pendukung tidak memiliki peran signifikan," tambahnya.

Lujeng memaparkan, banyak contoh kasus calon-calon yang diusung oleh koalisi besar dari parpol pemenang pemilu yang justru tumbang.

"Pilwali justru dimenangkan oleh calon yang didukung oleh koalisi terbatas dan bukan pemenang pemilu di beberapa daerah di Indonesia," urainya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved