Raih IPK 3,94, Putri Petani Ponorogo Jadi Lulusan Terbaik STAN 2020

Meyrina Kusumaningrum, mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara asal Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, menjadi lulusan terbaik STAN 2020.

TRIBUNJATIM.COM/SOFYAN ARIF CANDRA
Meyrina Kusumaningrum, asal Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, jadi lulusan terbaik STAN 2020 dengan IPK 3,94, Jumat (9/10/2020). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Meyrina Kusumaningrum, mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ( STAN ) asal Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, menjadi lulusan terbaik STAN 2020.

Meyrina mengaku tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik, lantaran dia menilai banyak temannya yang lebih rajin belajar dibandingkan dirinya.

"Tapi alhamdulillah dapat predikat itu dan saya persembahkan untuk orang tua," kata lulusan jurusan D3 Akuntansi ini, Jumat (9/10/2020).

Meyrina mengaku tidak punya tips dan trik khusus hingga mendapatkan IPK 3,94.

Hanya saja ia selalu belajar sendiri agar bisa lebih fokus dan mengerti substansi materi.

"Yang paling penting adalah selalu meminta doa kepada orang tua," lanjutnya.

Anak pertama dari dua bersaudara tersebut menceritakan, masuk STAN sudah menjadi cita-citanya sedari SMP.

Pemkab Ponorogo Mulai Lelang 10 Paket Perbaikan Jalan, Sekda: Mulai Dikerjakan Awal November

Unisla Resmi Jadi Kampus Tangguh Semeru, Contoh Penerapan Protokol Covid-19 di Universitas Lamongan

Namun menjelang lulus SMA, ia berkeinginan untuk masuk ke kedokteran.

"Saya sudah mencoba mendaftar kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Sebelas Maret Solo tapi gagal. Waktu itu keterima di jurusan Kebidanan Unair Surabaya," kata alumni SMAN 1 Ponorogo ini.

Ia sudah melakukan daftar ulang secara online di Unair Surabaya, namun ternyata ia juga lulus tes di STAN.

"Pertimbangan saya memilih STAN karena semuanya gratis dan peluang untuk menjadi PNS lebih besar," jelasnya.

"Sebenarnya saya di Unair juga jalur Bidik Misi, tapi untuk buku-bukunya kan belum tahu apakah gratis juga atau tidak. Sedangkan di STAN sudah pasti dari perpustakaan," lanjutnya.

Mengenal Bobota, Robot Pemburu Masyarakat Tak Bermasker Milik Polres Bojonegoro

Tak Ditemui Dewan, Mahasiswa Ponorogo Gelar Salat Jenazah di Depan Gedung DPRD: Hati Nurani Mati

Meyrina sendiri memang berangkat dari keluarga dengan latar belakang yang kurang mampu.

Ayahnya pekerja sebagai petani, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Lebih lanjut, jalan Meyrina masuk STAN tidaklah mudah, terlebih lagi saat tes kesehatan atau tes fisik. Ia mengaku tidak kuat lari dengan jarak jauh.

"Sudah latihan di rumah memutari kampung cuma kuat satu putaran saja. Alhamdulillah waktu tes saya kuat 4 kali putaran lapangan tanpa berhenti. Waktu itu saya hanya membayangkan gerbang depan PKN STAN agar kuat," jelas Alumni SMPN 6 Ponorogo ini.

Meyrina mengambil tugas akhir dengan judul 'Analisis Pengaruh Opini dan Temuan Audit BPK Terhadap Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Kota se-Jawa Timur'.

Ia menyelesaikan tugas akhir selama 6 hingga 7 bulan.

Kepada putra-putri Ponorogo, putri dari Sumitro dan Winarsih tersebut berpesan agar terus semangat belajar dan menuntut ilmu.

"Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat di kemudian hari. Dan jangan lupa minta doa dari orang tua, terutama ibu, karena doa kedua orang tua mempunyai kekuatan yang luar biasa," pungkasnya.

Editor: Dwi Prastika

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved