Patroli Petugas Gabungan Terus Waspadai Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Nganjuk

Kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih dilakukan jajaran Kepolisian Polres Nganjuk.

Penulis: Achmad Amru Muiz | Editor: Pipin Tri Anjani
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Petugas gabungan saat melakukan patroli di hutan kawasan Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. 

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih dilakukan jajaran Kepolisian Polres Nganjuk.

Ini setelah hingga sekarang di sejumlah hutan wilayah Kabupaten Nganjuk masih terjadi kekeringan sehingga potensi terjadinya kebakaran masih cukup tinggi.

Kapolsek Rejoso Polres Nganjuk, AKP Burhanudin mengatakan, kawasan hutan yang juga merupakan lahan pertanian masyarakat di saat musim penghujan, senantiasa harus dijaga.

Ini dikarenakan masih ada masyarakat yang biasanya membakar dedaunan dan ranting untuk membersihkan lahan yang bisa membahayakan batang pohon kayu hutan yang ikut terbaka.

Baca juga: Uji Coba KBM Tatap Muka SMA Dan SMK Di Nganjuk Diperluas

Baca juga: Sempat Melandai, Total Kasus Positif Covid-19 di Nganjuk Kini Tembus 583: Ada Tambahan 8 Pasien

"Untuk itu, petugas patroli Polsek Rejoso senantiasa mengimbau masyarakat penggarap lahan hutan agar meminimalkan upaya pembakaran dalam membersihkan lahan hutan, karena hal itu bisa menimbulkan dampak polusi udara dan bisa membahar kawasan hutan yang berisi tanaman pokok hutan," kata Burhanudin, Senin (26/10.2020).

Dijelaskan Burhanudin, sekarang ini pemerintah melalui perhutani bekerjasama dengan masyarakat membolehkan pemanfaatan lahan kosong sementara di hutan untuk ditanami tanaman pangan.

Kebijakan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan hasil pertanian dan perekonomian masyarakat. Meskipun masyarakat yang memanfaatkan lahan hutan harus mengikuti ketentuan yang berlaku dan harus diterapkan guna menjaga kelestarian hutan.

Memang, diakui Burhanudin, hingga sekarang ini masih banyak lahan hutan yang kosong setelah dilakukan penebangan kayu dan masih menunggu penanaman kayu kembali.

Proses tersebut membutuhkan waktu lama sehingga lahan kosong sementara itu bisa dimanfaatkan oleh warga untuk bercocok tanam dengan aneka tanaman pertanian.

"Dan masyarakat harus terus diberikan pemahaman agar ikut menjaga kelestarian hutan sambil mereka bercocok tanam di hutan sambil menunggu dilakukan penanaman pohon kembali oleh Perhutani," tutur Burhanudin. (SURYA/Achmad Amru Muiz)

Editor: Pipin Tri Anjani

Baca juga: Cegah Penularan Covid-19, Operasi Yustisi Pelanggar Protokol Kesehatan Intensif Dilakukan di Nganjuk

Baca juga: Miris Nasib 2 Model Cantik, Dulu Populer dan Harta Berlimpah, Kini Hidupnya Pilu Jadi Gelandangan

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved