Breaking News:

Harga Kedelai Impor Naik, Pengrajin Tahu dan Tempe Pasuruan Menjerit, Ada yang Kurangi Ukuran Produk

Harga kedelai impor naik, pengrajin tahu dan tempe di Pasuruan Jawa Timur menjerit, ada yang pilih kurangi ukuran produk.

TRIBUNJATIM.COM/GALIH LINTARTIKA
Fadilah, pembuat tempe di Pasuruan, Jawa Timur, saat mengaduk kedelai, Minggu (3/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Galih Lintartika

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Kenaikan harga kedelai impor di beberapa wilayah di Indonesia berimbas pada aktivitas para pengrajin tahu dan tempe di Pasuruan, Jawa Timur.

Sejumlah pengrajin tahu dan tempe di Pasuruan mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe.

Fadilah, salah satu pembuat tempe di Desa Pacarkeling, Kecamatan Kejayan, Pasuruan, mengaku tidak mengetahui apa penyebab naiknya harga kedelai impor ini.

Ia menyebut, kenaikan ini sudah terjadi hampir dua bulan terakhir.

Kata dia, kenaikan harga kedelai impor membuat omzetnya menurun drastis.

Baca juga: Berbagai Terobosan Pengadilan Negeri Bangil Pasuruan untuk Tingkatkan Pelayanan di Tahun 2021

Baca juga: Harga Kedelai Impor Amerika di Kota Malang Terus Naik, Sudah Sejak Oktober 2020

"Kami tidak mungkin menaikkan harga jual tempenya. Karena sudah banyak yang menjadi langganan di tempat saya, kalau dinaikkan saya risiko kehilangan pelanggan," kata dia, Minggu (3/1/2021).

Fadilah mengatakan, kebutuhan kedelainya mencapai 1 ton dalam seminggu. Namun, karena kenaikan harganya sangat signifikan, akhirnya ia hanya membeli setengah ton untuk kebutuhan seminggu.

"Saya harus mensiasatinya. Kalau tidak, saya yang merugi. Terpaksa saya mengurangi produksi agar tetap bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19 (virus Corona)," jelas dia.

Disampaikan Fadilah, sebelumnya, harga kedelai impor per kilogram tidak sampai Rp 8.000. Tapi sekarang per kilogram sudah Rp 9.050.

Baca juga: Viral Terjadi Kerumunan Saat Pemakaman Tokoh Agama di Pasuruan, Satgas Covid-19 Langsung Lakukan 3T

Baca juga: RS Paru Jember Jadi Rumah Sakit Rujukan Khusus Pasien Covid-19, Ada Penambahan Bed

Terpisah, Khoirur Roziki, salah satu pembuat tahu juga mengatakan hal yang sama.

Dia menyebut, untuk mengantisipasi hal itu, ia mengecilkan ukuran tahunya.

"Daripada menaikkan harga jual, saya lebih baik mengecilkan ukuran tahu yang saya jual. Tapi, tetap proporsional dan layak jual," pungkas dia.

Editor: Dwi Prastika

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved