Breaking News:

Kisah Gus Dur Temukan Makam Leluhurnya di Hutan Banyuwangi

Bahkan di pelosok hutan pun Gus Dur bisa menemukan makam Auliyah yang juga masih leluhurnya, sepert di Hutan Jati di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendengarkan pertanyaan wartawan saat menyampaikan Catatan Kritis Akhir Tahun di Jakarta, Selasa (26/12/2006). 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid memang ahli tirakat dan suka berziarah ke tempat-tempat yang tidak disangka kebanyakan orang awam.

Bahkan di pelosok hutan pun Gus Dur bisa menemukan makam Auliya yang juga masih leluhurnya, seperti di Hutan Jati di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Biasanya kalau makam tersebut seusai diziarahi Gus Dur ( KH Abdurrahman Wahid ) yang juga mantan Ketua PBNU serta mantan Presiden RI tersebut langsung ramai dikunjungi peziarah, terutama kaum Nahdliyin (NU) .

Seperti kisa dia area pemakaman kuno yang terletak di kawasan hutan Banyuwangi menjadi salah satu jejak syiar Islam paling awal yang masuk ke Tanah Jawa. Makam ini milik orang suci yg datang dari negeri Rum.

Beliau tak lain adalah Syekh Al Maulaya. Di tanah Jawa, beliau juga dijuluki Syekh Mulyo atau Syekh Akbar yang mana diketahui sebagai Sepupu dari Syekh Subakir.

Di areal pemakaman itu pula terdapat makam dari puluhan tokoh masa lampau tanah Jawa. Beberapa di antaranya seperti Aryo Murti dan makam ayah dari Syekh Mulyo, yakni Syekh Kamaluddin Sarbiqoni Sayyidtullah.

Beberapa makam terlihat memiliki ukuran yang tak biasa. Sekitar 10 makam memiliki panjang mencapai 7 meter lebih, sedangkan makam lainnya memiliki panjang sekitar 3 meter.

Makam para orang suci ini berada di tengah belantara hutan jati di Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo. Tepatnya di petak 76 kawasan Gunung Gamping, ya kini secara administratif dikelola Perhutani Banyuwangi Selatan.

Menurut cerita babat desa setempat, areal pemakaman kuno itu diketahui sudah ada sejak tahun 1603. Lokasi ini juga menjadi basis pertahanan para pejuang pada masa penjajahan Belanda.

Baca juga: Fakta di Balik 12.400 Warga Israel Positif Covid Pasca Vaksinasi, Dibongkar Pakar: Apa Vaksinnya?

Baca juga: Miliki Jet Pribadi Hadiah Pernikahan, Owner Juragan99 dan Founder Ms Glow Menginspirasi Pengusaha

Baca juga: Lirik Lagu Sarang Dosa Grup Qosidah El Hawa, Viral di TikTok, Menggunjing Orang itu Sarang Dosa

Seiring berjalannya zaman, areal pemakaman yang banyak ditumbuhi pohon Klampis hitam ini terlantar. Hingga akhirnya pada 1996, jejak sejarah tanah Jawa itu kembali 'ditemukan'.

"Yang menemukan (kembali) makam itu yakni Muhammad Said Abu Bakar Sabitullah. Beliau ahli waris dari Syekh Mulyo," jelas Edy Yanto, salah satu tokoh yang turut melestarikan makam Syekh Mulyo.

Namun, pada saat itu warga masih belum mengetahui siapa gerangan pemilik makam tersebut.

Hingga akhirnya, Muhammad Said Abu Bakar melakukan penelusuran bersama sejumlah temannya.

Said didampingi Gus Safik, pengasuh Ponpes Mambaus Salam Tulungagung, pergi menuju rumah Gus Dur di Ciganjur.

Video Gus Dur menjawab alasan membubarkan Kemensos
Gus Dur (Twitter/GUSDURians)

Gus Dur sendiri dikenal sebagai arkeolog spesialis makam tokoh sejarah.

"Datanglah Gus Safik dan rekannya ke rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan. Waktu itu Gus Dur baru saja jadi Presiden," katanya.

Rombongan Gus Safik saat datang sempat ditolak oleh ajudan Gus Dur.

Tak dinyana, justru Gus Dur keluar dari pintu rumah dan langsung memanggil Gus Safik bersama rombongannya.

"Herannya, sebelum teman2 sampaikan maksud kedatangannya, ternyata Gus Dur sudah tahu dulu jika mereka akan bertanya tentang makam," tambah Edy lagi.

Dari pertemuan itu, Gus Dur bercerita jika jauh-jauh hari sebelumnya pernah melakukan tirakat selama 3 bulan di makam tersebut.

Itu dilakukan setelah Gus Dur mendapat perintah dari keluarga besarnya untuk menelusuri jejak leluhurnya.

"Menurut cerita Gus Dur, beliau diminta keluarganya untuk mencari makam leluhurnya yang ada di ujung Timur Jawa. Dan ternyata makam Syekh Kamaludin dan Syekh Mulyo yang dimaksud," paparnya.

Gus Dur memastikan bahwa makam tersebut memang makam para Aulia yang tertua di tanah jawa.

Bahkan Gus Dur menuliskan permintaan khusus di selembar kertas kepada masyarakat.

"Saya berpesan kepada seluruh umat Islam khususnya warga Nahdhliyin dan para Ulama dan Umaroh tolong lestarikan dan rawatlah keberadaan makam Auliya tersebut," ujar Edy menirukan ucapan Gus Dur, yang juga membacakan penggalan tulisan di selembar kertas yang terdapat tanda tangan Gus Dur. (Disarikan dari berbagai Sumber)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved